Menelusuri Jejak Perjuangan Hantu Maut di nDalem Pujokusuman

Jumat 10/08/2018 08:43 WIB   Informasi  

Ndalem Pujokusuman selama ini terkenal sebagai salah satu ikon seni budaya di Kota Yogyakarta. Tempat yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwana II tersebut memang masyhur sebagai pusat seni tari tradisional Kota Yogyakarta. Namun, siapa sangka nDalem Pujokusuman pernah menjadi salah satu pusat perjuangan para pemuda Yogyakarta dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari penjajah Belanda. Jejak-jejak perjuangan tersebut dapat dilihat dari salah satu plakat yang tertampang di sudut sebelah Timur nDalem Pujokusuman.

Pasukan Gerilya Hantu Maut, demikian nama yang tertera dalam plakat tersebut. Plakat tersebut dipasang sebagai tetenger bahwa nDalem Pujokusuman pernah menjadi markas dari pasukan Gerilya yang aktif pada tahun 1948-1949. Nama Hantu Maut memang sangat jarang dibahas dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, namun sesuai namanya, pasukan ini sempat menyebarkan ketakutan di kalangan penjajah Belanda yang saat itu belum terima atas kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Pasukan Hantu Maut berawal dari sekumpulan pemuda pemberani dari kawasan Keparakan Lor yang membentuk laskar rakyat. Sepak terjang laskar Keparakan Lor tersebut sudah dimulai sejak akhir era penjajahan Jepang tahun 1945. Pasukan ini merupakan salah satu laskar yang turut serta dalam penyerbuan Kotabaru pada tanggal 8 Oktober 1945.

Selepas Indonesia merdeka dari Jepang, Pasukan tersebut tak lantas membubarkan diri, namun justru secara intensif meningkatkan kecakapan militer yang meliputi baris-berbaris, penggunaan senjata, siasat dan strategi perang, serta cara meloloskan diri dari pengepungan di bawah pelatihan Nawawi dari Militer Akademi (MA). Pelatihan tersebut diadakan dalam kurun waktu 1 tahun antara 1946 hingga 1947 di Goa Slarong, tempat yang secara spiritual dianggap mampu membangkitkan semangat juang tersebut.

Bersamaan dengan Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948, laskar Keparakan Lor ini menuju ke Selatan di Desa Ngoto untuk melaksanakan perlawanan terhadap Belanda. Di sana, laskar tersebut membentuk pasukan dengan nama Samber Gelap. Dengan jumlah anggota sebanyak kurang lebih 50 orang dan bermodalkan senjata hasil rampasan dari pertempuran Kotabaru, para pemuda pemberani tersebut kembali merapatkan barisan demi mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Seiring dengan makin masifnya serbuan Belanda, Pasukan ini juga turut berkembang dengan turut bergabungnya pemuda-pemuda dari kampung Brontokusuman, Prawirotaman, dan Karangkajen. Di bawah pimpinan GBPH Poedjokoesoemo yang merupakan putra Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, akhirnya pada tanggal 9 Januari 1949 terbentuklah Pasukan Hantu Maut.Nama tersebut dapat diartikan sebagaipasukan perlawanan bagai hantu yang akan memberi dan menyebartak maut bagi pasukan penjajah Belanda dan antek-anteknya.

Dalam aksinya, pasukan tersebut memang seringkali menyebarkan kengerian bagi musuh-musuhnya. Penculikan terhadap tentara Belanda maupun mata-mata seringkali dilakukan oleh pasukan yang berseragam putih-hijau ini. Metode penculikan yang dilakukan pasukan gerilyawan ini memang cukup unik, mereka menggunakan wanita yang menggoda tentara belanda untuk berkencan untuk kemudian di bawa ke perkampungan markas dan disergap.

Pasukan ini juga turut serta dalam berbagai pertempuran penting, seperti Serangan Oemoem Satu Maret tahun 1949, di mana dengan bermodalkan beberapa granat dan pistol mereka turut mempertahankan wilayah Gondomanan. Selain itu pada bulan Maret dan April 1949 Pasukan Hantu Maut, bersama-sama dengan laskar rakyat lainnya melakukan pencegatan terhadap konvoi Pasukan Belanda di Kentungan, dari situ mereka melakukan penyitaan terhadap senjata dan amunisi. Salah satu kesuksesan Pasukan Hantu Maut adalah penyerangan terhadap markas Belanda di Kaliurang tepat pada saat perayaan ulang tahun ratu Juliana ke-40.

Pada tanggal 29 Juni 1949, Pasukan Hantu Maut mendapat mandat untuk menjaga keamanan di wilayah dari sebelah utara Stasiun Tugu hingga batas kota sebelah utara. Pasukan ini memang selain melakukan perlawanan masif terhadap Belanda juga menjaga keamanan dan stabilitas wilayah di sekitar markas mereka dari pencuri dan garong.

 Setelah kedaulatan di Indonesia sudah memasuki masa-masa stabil dan pemerintahan kembali pada pemerintahan sipil, Pasukan ini didemilitarisasi pada tanggal 27 Desember 1949 dan anggotanya kembali menjadi masyarakat sipil dengan surat penghargaan, ada juga sebagian anggota yang kemudian meneruskan ke pendidikan militer.

 Saat ini sebagian besar anggota Pasukan Hantu Maut sudah tiada, nama Pasukan ini pun tidak banyak tercatat dalam sejarah, namun tetenger yang ada di nDalem Pujokusuman ini menjadi penanda bahwa pasukan ini pernah eksis dengan segala keberanian mereka dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia, sekaligus menegaskan predikat Kampung Pujokusuman sebagai kampung perjuangan.

Komentar