Fasilitasi Wisatawan Blusukan Kampung Wisata,  Jogja Bike luncurkan Unit MTB
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Fasilitasi Wisatawan Blusukan Kampung Wisata, Jogja Bike luncurkan Unit MTB
Pemkot Yogyakarta meluncurkan sejumlah fasilitas anyar untuk menunjang konsep semi pedestrian Malioboro. Fasilitas ini diharapkan bisa memanjakan para wisatawan. Salah satunya adalah meluncurkan unit baru Jogja bike yang berupa sepeda jenis MTB atau sepeda gunung untuk melengkapi koleksi layanan Jogjabike yang sebelumnya hanya mengadopsi ontel, Selasa (23/7/2019). Peluncuran unit baru Jogja bike ini adalah untuk memfasilitasi para wisatawan yang ingin blusukan ke kampung wisata dengan cara gowes. Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan Jogjabike versi MTB tersebut untuk mewadahi aspirasi pengguna yang menginginkan bisa berkendara nyaman untuk jarak jarak yang agak jauh, bukan di sekitaran Malioboro saja. Dengan Jogjabike MTB ini harapan kami wisatawan yang menyewa sepeda bisa berpergian sampai kampung kampung wisata di pinggiran Yogya, yang jalan kampungnya sempit dan tak bisa di akses becak atau andong atau angkutan umum lain ujarnya. Menurutnya Di Yogya sendiri banyak kampung wisata dengan keunikan tersendiri dan bisa dijangkau dengan gowes. Seperti blusukan di lokasi perajin perak di Kotagede atau menyambangi gang gang kecil di kampung perajin Dipowinatan atau Kauman yang eksotis. katanya. Dengan bersepeda, lanjutnya, bisa pula belanja oleh oleh ke pusat perajin bakpia di Kampung Patuk atau belanja batik lukis di kampung Tamansari. Walikota menambahkan jika keberadaan alat transportasi ramah lingkungan juga akan mendukung uji coba Malioboro yang diarahkan menuju kawasan semi pedestrian. Sementara itu, Komisaris Utama Jogja Bike, Triyanto menambahkan, Jogja Bike edisi MTB ini bisa digunakan wisatawan untuk jarak lebih jauh dibandingkan Jogja Bike edisi sepeda onthel. Untuk menghubungkan destinasi wisata Malioboro ke kampung dan ikon wisata di sekitar Malioboro, sebagai penghubung. Sehingga wisatawan tidak tumplek blek di Malioboro, sehingga kampung dan ikon wisata tersembunyi bisa lebih dikenal, kata Triyanto. Biaya sewa Jogja Bike edisi sepeda onthel dan MTB sama, yakni Rp 5.000 per jam. Wisatawan bisa menyewa melalui aplikasi. Tiap unit sepeda dipasangi alat GPS sehingga pengelola bisa memantau keberadaan sepeda ketika disewa wisatawan. Khusus sepeda onthel dipakai di sekitaran Malioboro, kalau MTB bisa lebih jauh, nanti akan dilengkapi rute, imbuhnya. Triyanto mengungkapkan, bahwa seluruh sepeda dilengkapi dengan GPS tersembunyi. Bila ada oknum yang dengan sengaja membawa Jogja Bike keluar jauh dari jangkauan, maka pihaknya bisa segera melacak. Layanan Jogja Bike bisa diakses wisatawan lewat aplikasi Ina Bike. Untuk pembayaran sewanya bisa melalui aplikasi Link Aja atau tunai. Layanan Jogjabike sendiri saat ini memiliki rata rata trip peminjaman 100 hingga 150 trip perharinya. (Han)
Ratusan Lansia Rayakan HUT PWRI Ke-57 Tahun
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Ratusan Lansia Rayakan HUT PWRI Ke-57 Tahun
Kurang lebih sejumlah 200 Lansia yang bergabung dalam Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) memperingati Hari Lansia PWRI yang dilaksanakan di Lapangan Balaikota Yogyakarta, Rabu (24/7). Diawali dengan memotong Tumpeng oleh Walikota Yogyakarta tanda perayaan HUT PWRI Kota Yogyakarta yang Ke-57 Tahun. Haryanto(79), salah satu anggota PWRI kecamatan Danurejan mengatakan, bahwasannya senam ini sangat membuat sehat dan banyak manfaat adanya PWRI. "Senam pagi ini sangat menyehatkan, tetapi kalau kelamaan ya encok. Tapi dengan adanya PWRI ini sangat membuat bahagia para lansia. Banyak relasi dan memperpanjang usia,"tuturnya. Kecamatan Tegalrejo, Rajimin(77) pun tak kalah menyahut jika acaranya tahun-tahun lalu di RW kecamatan. "Sudah dua tahun ini di gabung dan hanya perwakilan saja dari kecamatan per RW se-Kota Madya. Dan di hadiri oleh Walikota," sahutnya. Menurutnya pengabdian selama puluhan tahun saat menjadi abdi negara menjadi bekal dan pengalaman untuk tetap berperan di masyarakat. Setelah pensiun, lanjutnya, tetap ada seperti ikatan janji untuk berkiprah di masyarakat dan mendukung program pembangunan pemerintah. Apalagi kiprah di lingkup paling kecil di kampung seperti RT/RW. Bukan perkara yang bisa disepelekan karena berhadapan langsung dengan masyarakat dan beragam karakater. Ia menilai justru para pensiunan yang lanjut usia bisa memberikan motivasi dengan pengalamaan yang didapat selama ini. "Kiprah di wilayah seperti RW itu tidak bisa disepelekan karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kami yang sudah sepuh-sepuh ini menjadi pendorong dan pemersatu warga," terangnya. Ketua Panitia PWRI Kota Yogya, Haryadi mengatakan, rangkaian kegiatan ulang tahun meliputi ziarah hingga Cek Kesehatan Gratis oleh Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. "Kegiatan ini meliputi Upacara peringatan HUT PWRI yang diisi oleh serangkaian acara meliputi Ziarah Anggota PWRI yang dilaksanakan tanggal 23 Juli 2019, dilanjutkan dengan senam dan pemeriksaan kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta," katanya. Peserta yang mengikuti HUT PWRI Ke-57 adalah seluruh Lansia anggota PWRI se kota Yogyakarta yakni meliputi 14 kecamatan seperti Kecamatan Gondokusuman, Umbulharjo, Tegalrejo dan lainnya. Haryadi menambahkan dengan satu semangat untuk PWRI semakin sejahtera. "Dengan kegiatan ini saya berharap keluarga PWRI semakin erat, solid, serta tata tentram kertaharja, selamat Ulang Tahun PWRI Kota Yogyakarta, Jaya jaya jaya," katanya. Selain itu, Ketua PWRI Kota Yogyakarta, Muhammad Ngadyono berharap, anggota PWRI Kota Yogyakarta diberikan kesehatan dan selalu berperan aktif di dalam kegiatan PWRI. "Mudah-mudahan untuk Ulang Tahun yang akan datang bapak ibu diberikan kesehatan, kesejahteraan, memeriah PWRI kota Yogyakarta, semoga menjadi amal baik bagi bapak ibu sekalian," ungkapnya. Kegiatan ini melalui arahan dan dukungan dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang selalu meningkat dan memudahkan PWRI agar lebih baik lagi. "Kita ini sebagai penerus, penerus kepada Korpri, mengabdi kepada negara bangsa melalui lembaga social organisasi kemasyarakatan yang di gaji oleh pemerintah, untuk memiliki peran aktif di pemerintah daerah membantu menyukseskan pembangunan di Kota Yogyakarta," ungkapnya. Dalam sambutannya Walikota Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan, ini merupakan bentuk perjalanan yang telah dilalui sepuh agar tetap sehat, mempererat kekeluargaan di organisasi PWRI. Organisasi ini harus terus berkembang, harus bisa meningkatkan kualitasnya sebagai organisasi atau wadah teman-teman senior dan pejabat yang memasuki batas usia yakni pensiun. Organisasi yang baik adalah yang bermanfaat untuk anggotanya," ungkapnya. Haryadi Suyuti menambahkan, Purna Tugas yang dialami para lansia bukan akhir segalanya, akan tetapi masa ini hendaknya dimanfaatkan sebagai fase pemulihan kondisi psikologis dan keharmonisan dinamika kehidupan di tengah keluarga maupun masyarakat. "Sebagai lansia harus lebih Mandiri Produktif dan Sejahtera (MPS), mohon bisa bersinergi dengan program lansia dan bentuk pengabdian yang berbeda. Menjadi tua itu pasti namun dinikmati saja, sehat selalu, dirgahayu PWRI Kota Yogya, marilah kita jaga selalu PWRI," ungkapnya. (Hes/Vin)
Sinergitas menuju Kota ramah Lansia
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Sinergitas menuju Kota ramah Lansia
Dinas Sosial Kota Yogyakarta bersama Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat Elsam dan dukungan Program peduli Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan kebudayaan menyelenggarakan Fokus Grup Diskusi/FGD, pada hari rabu pagi, 23 Juli 2019 di Hotel GAIA Cosmo guna menyusun indikator Kota Yogyakarta ramah lanjut usia. Hadir dalam kegiatan tersebut wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, Kepala Dinas Sosial dan Jajaran, Akademisi, Komda Lansia, LSM serta OPD sejumlah 25 orang. Dalam laporan penyelenggaraannya Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Irianto Edi Purnomo mengemukakan, bahwa Kota Yogyakarta telah memiliki Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 38 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan lanjut usia. Dengan demikian kita memiliki rencana untuk mewujudkan Kota Ramah Lansia berupa kerangka kerja bagi perangkat daerah dalam mewujudkan Kota ramah lansia yang saling terintegrasi antar OPD dalam lingkungan Pemkot. Selain itu, juga membuka akses masyarakat dalam pemenuhan hak-hak lansia. Untuk mewujudkan Kota ramah lansia ada delapan dimensi yang harus dipenuhi, seperti : ruang publik dan gedung bangunan, transportasi, perumahan, partisipasi sosial, penghormatan dan inklusi sosial, partisipasi sipil dan ketenagakerjaan, komunikasi dan informasi, komunitas dan layanan kesehatan. Heroe Poerwadi, Wakil walikota Yogyakarta menyampaikan arahan dalam FGD penyusunan indikator Kota ramah lansia di Yogyakarta, bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta dalam membangun gedung pemerintah yang baru telah menselaraskan dengan indikator ramah lansia, seperti pemasangan ram pada tangga, penyediaan lift untuk gedung bertingkat. Demikian juga untuk pembangunan yang dilakukan oleh pribadi atau swasta kita telah meminta adanya fasilitas untuk lansia, agar memudahkan para lansia untuk mengases bangunan yang dimiliki swasta seperti mall, hotel, dll. Disisi lain dalam pembangunan Ruang Terbuka Hijau Pemkot telah menerapkan standart ramah lansia meskipun harus diakui ada beberapa tempat yang kontur tanahnya naik turun seperti di daerah pinggiran sungai. Harapan kami, dengan telah terwujudnya 12 kecamatan inklusi dari 14 kecamatan, kita tinggal menggenjot dua kecamatan guna mewujudkan Kota inklusi. Setelah menjadi Kota inklusi maka kita tinggal menambahkan beberapa indikator penunjang menuju kota ramah lansia. Guna mendukung terpenuhinya indikator kota ramah lansia maka dalam musrenbang yang dilakukan secara berjenjang dimasukkan kegiatan penunjang. Selain kegiatan penunjang juga disusun standar operasional prosedur (SOP) dan tata kelola yang dapat menjadi acuan para pemangku kepentingan di semua tingkatan. Dengan demikian tidak ada kegiatan yang saling tumpang tindih tapi semua akan saling terintegrasi dan bersinergi dalam satu langkah mewujudkan Kota Yogyakarta ramah lansia. Mudah-mudahan apa yang kita upayakan dalam FGD ini mendapat ridho Alloh SWT dan memberikan mafaat pada masyarakat pada umumnya dan lansia pada khususnya. (ant)
Yogyakarta Terpilih Sebagai Tempat Pusat Riset dan Inovasi Danone Bertaraf Dunia
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Yogyakarta Terpilih Sebagai Tempat Pusat Riset dan Inovasi Danone Bertaraf Dunia
Kota Yogyakarta terpilih sebagai lokasi didirikannya pusat riset dan inovasi danone (Danone Nuticia Research) " Sarihusada Research Innovation Center. Dengan begitu Kota Yogyakarta menjadi salah satu dari lima lokasi Riset Danone yang tersebar di dunia. Sarihusada Research Innovation Center di Kota Yogyakarta ini menjadi yang kelima di dunia setelah Belanda, China, Inggris, dan Singapura. "Tentu ini menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta, karena pusat riset ini hanya ada di lima negara, dan salah satunya adalah di Yogyakarta," ucap Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi usai meresmikan Sarihusada Research Innovation Center di Pabrik Sarihusada Mujamuju, Rabu (24/7/2019). Dengan terpilihnya Kota Yogyakarta sebagai lokasi didirikannya Sarihusada Research Innovation Center ini tentu menjadi bukti bahwa Kota Yogyakarta memiliki nilai lebih di mata dunia. "Bagi Pemerintah Kota Yogyakarta, Sarihusada adalah mitra kerja kami sejak lama. Sarihusada adalah bagian dari perkembangan dinamika Yogyakarta," imbuhnya. Selain itu, sambung Heroe, ini juga sebagai wujud komitmen antara Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Sarihusada untuk terus menghadirkan produk " produk yang berkualitas untuk melayani masyarakat. "Kami juga mendorong Sarihusada untuk bisa menghadirkan beragam produk untuk semua usia termasuk untuk kelompok lanjut usia," cetusnya. Pihaknya berharap dengan hadirnya Sarihusada Research Innovation Center di Kota Yogyakarta ini, Sarihusada semakin maju dalam memberikan produk " produk yang lebih bervariasi. Dalam kesempatan itu juga, Presiden Direktur PT Sarihusada Generasi Mahardika Connie Ang menerangkan, adanya pusat riset di Yogyakarta ini akan mampu mendorong upaya danone di Indonesia untuk mengembangkan inovasi produk nutrisi. "Karena hal itu berperan penting dalam membantu penanganan berbagai isu kesehatan yang terjadi di Indonesia seperti stunting dan anemia," imbuhnya. Ia menambahkan, Danone berkomitmen untuk membawa kesehatan melalui produk pangan ke sebanyak mungkin masyarakat dunia dan Indonesia menjadi salah satu fokus penting bisnisnya. "Fokus kami di Indonesia adalah untuk berkontribusi menjawab tantangan pemenuhan nutrisi yang dihaspi ibu dan anak termasuk faltering growth (pertumbuhan yang terhambat)," jelasnya. Peningkatan fasilitas ini, sambungnya, akan membantu kami mengedepankan riset dan inovasi untuk memastikan pendekatan yang menyeluruh dalam pengembangan produk secara lokal. Dengan memiliki Pusat Riset dan Inovasi di lokasi yang sama dimana kami beroperasi dan berproduksi, akan lebih mudah bagi kami untuk melakukan penelitan secara mendalam dan mendapatkan masukan langsung dari konsumen. "Danone-Sarihusada pertama kali membangun Pusat Riset dan Inovasi di Yogyakarta pada 2011. Selama delapan tahun, berbagai transformasi telah dilakukan untuk memastikan peningkatan kapabilitas dan aplikasi teknologi terkini," ucapnya. Adanya pilot plant di pabrik Yogyakarta akan mendukung proses uji coba produk berupa pengembangan prototipe produk bagi konsumen di Indonesia dan beberapa negara sehingga mendorong efisiensi proses inovasi produk. (Tam)
Ratusan Siswa Bersaing Di OPSI 2019
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Ratusan Siswa Bersaing Di OPSI 2019
Ratusan siswa SMP tingkat Kota Yogya bertarung dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2018 di Yogyakarta. Kompetisi tahunan ini dihelat pada 23 hingga 24 Juli. Olimpiade ini diikuti 48 peserta yang tiap peserta terdiri dari 3 siswa. Dalam Olimpiade ini terdapat tiga bidang yang dilombakan, yakni IPA dan lingkungan, IPS dan Kemanusiaan, serta bidang teknik dan rekayasa. Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogya, Budi Santosa Asrori menjelaskan, OPSI tahun ini bertujuan untuk mendorong semangat dan menguatkan tekad percepatan pembangunan pendidikan bermutu dalam menyiapkan generasi emas Indonesia. "Kompetisi ini sebagai wadah para siswa SMP menyalurkan tenaga, bakat dan talenta mereka di kegiatan yang positif. Kami memberikan apresiasi kepada mereka yang memiliki talenta itu, kita wadahi dan berikan penghargaan kepada mereka, ujarnya di gedung Archimedes komplek Taman Pintar, Rabu (24/7/2019). Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi yang pada kesempatan tersebut membuka Olimpiade ini sangat menyambut baik kegiatan ini, pasalnya kegiatan ini merupakan kegiatan yang positif dan sangat bermanfaat sebagai sarana menumbuhkembangkan penelitian riset di kalangan pelajar tingkat SMP Ia pun berpesan kepada para peserta Olimpiade agar terus berjuang dan pantang menyerah. "Bagi para siswa peserta OPSI kiranya jadikanlah jiwa dan semangat kalian sebagai peneliti yang tangguh. Marilah kita melihat bahwa segala fenomena permasalahan yang terjadi dan ada di sekitar kita, pasti dapat dianalisa dan memiliki jawabannya secara ilmiah, untuk kemudian menjadi ilmu yang berguna bagi hidup kita sehari-hari" ungkapnya Ia berharap dengan adanya olimpiade ini dapat membangun integritas dan tanggung jawab, kemampuan berpikir logis dan analitis, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan menulis karya ilmiah. "Melalui OPSI, diharapkan dapat mengembangkan budaya meneliti di kalangan siswa dan menjaring peneliti muda yang bisa diikutsertakan dalam kegiatan penelitian di tingkat internasional" katanya. (Han)
Warga Badran Manfaatkan Lahan Sempit Untuk Menanam Sayur
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Warga Badran Manfaatkan Lahan Sempit Untuk Menanam Sayur
Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi melakukan panen perdana di Kampung Badran Kelurahan Bumijo Kecamatan Jetis Kota Yogya, Kamis (25/7/2019) pagi. Dibawah kelompok tani "Tani Makmur", kampung Badran berhasil mengembangkan banyak varietas tanaman sayur dan buah. Usai memanen,Ia mengimbau tiap daerah agar mampu memaksimalkan potensi yang ada agar bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Ia mendorong para petani di Kota Yogya untuk lebih mengutamakan kualitas produk. Sebab disadari jika lahan pertanian di Kota Yogya tidak terlalu luas. Meski lahannya kecil, kita harus punya kualitas. Yang terpenting para petani tidak hanya sekadar menghasilkan saja, tapi juga harus bisa survive dengan pendapatannya, ujarnya. Untuk meningkatkan income, Ia mengajak petani menggunakan pupuk organik. Pupuk organik dapat memberikan nilai tambah pada suatu produk sehingga pertanian memiliki harga jual yang lebih mahal "Tidak ada alasan keterbatasan lahan, karena di era sekarang menanam sayuran tidak hanya dilakukan oleh petani di sawah saja, namun kita bisa dengan memanfaatkan lahan yang ada di pekarangan rumah," katanya. Pihaknya berharap, kedepan seluruh rumah di Kecamatan Jetis memiliki media tanam sayur dan buah. Dengan begitu Ia optimis keberadaan kampung sayur di Kecmatan Jetis akan semakin maju. "Kalau bisa setiap rumah menanam, sehingga bisa panen raya bareng. Dengan begitu kebutuhan pangan akan tercukupi tanpa harus membeli dari luar," imbuhnya. Dengan adanya pemanfaatan lahan ini, katanya, bisa menjadi cara dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan, yang mana dapat dimulai dari bagian paling kecil yaitu dimulai dari masing-masing rumah tangga. "Pangan merupakan suatu kebutuhan dasar dari setiap manusia yang paling hakiki, oleh karena itu kebutuhan pangan pada suatu daerah mutlak harus dipenuhi," katanya. Sebagai upaya dalam menghadapi tantangan tersebut, menurutnya sangat diperlukan kesadaran untuk setiap keluarga mewujudkan kemandirian pangan yang diwujud nyatakan melalui budaya menanam di lahan pekarangannya masing-masing. "Maka dari itu kegiatan Panen Raya Sayur ini bukan hanya sekedar panen biasa tetapi juga menjadi bukti bahwa di tengah-tengah keterbatasan lahan di Kota Yogyakarta, budidaya tanaman buah dan sayur ternyata masih tetap dapat dilakukan," ucapnya. Wawali pun optimis, apabila dikembangkan dengan baik, maka segala macam hasil pertanian ini akan dapat menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dapat membangun kemandirian pangan. "Sehingga mampu menciptakan kestabilan dan ketahanan pangan di Kota Yogyakarta. Apalagi, hasil produk pertanian merupakan komoditas yang tidak akan lekang oleh waktu, sehingga sampai kapanpun manusia akan senantiasa membutuhkan pasokan pangan guna mencukupi kebutuhan hidupnya," jelasnya. Sementara itu, Ketua kelompk tani "Tani Maksmur", Edi Mugiarto mengatakan, sejumlah tanaman yang berhasil dikembangkan sekaligus dipanen adalah selada, kangkung, cabe, sawi, terong, hingga bayam. "Selain menanam sayuran dan buah dengan yang memanfaatkan lahan kecil di pinggiran jalan kampung, kampung ini juga mengembangkan budidaya ikan lele dengan metode buis beton atau lele cendol" jelasnya. Selain berhasil mananam sayur dan buah, warga juga telah berhasil membuat pupuk sendiri. Dengan begitu, menurutnya bisa menekan biaya pemeliharaan. Ia menegaskan, Warga Badran memiliki prinsip dan komitmen bahwa lahan sempit bukan alasan tidak bisa menanam sayur. (Han)
Bangun eksistensi, wujudkan inovasi
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Bangun eksistensi, wujudkan inovasi
Kamis pagi, 25 Juli 2019 di Ruang Arjuna, Komples Balaikota, Yogyakarta diselenggarakan Fokus Grup Diskusi tentang Peran Hak Kekayaan Intelektual Dalam inovasi Daerah oleh Bappeda Kota Yogyakarta. FGD yang diikuti oleh para pelaku UMKM dan perwakilan OPD Pemkot Kota Yogyakarta dengan nara sumber : DR. Budi Agus Riswandi, Asep Subagyo, M.Eng, dan Adi Haryadi, SH. Dalam FGD tersebut Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menyampaikan arahan, bahwa dari sebuah masalah yang sudah dianggap biasa bila diperhatikan akan melahirkan ide kreatif dalam memecahkan permasalahan dalam bentuk inovasi. Suatu masalah yang dianggap biasa, misal antri di Rumah Sakit Pratama, karena adanya kuota pasien maka pasien untuk mendaftar harus sudah antri sejak pukul 02.00 dinihari dan baru bisa dilayani pada siang hari. Hal tersebut merupakan kejadian biasa dan dianggap bukan masalah karena sudah rutin terjadi setiap hari. Namun jika kita kaji mendalam, hal itu merupakan masalah dalam bentuk kekurang prima-an proses pelayanan. Melalui tangan kreatif dan ide untuk memecahkan masalah maka dibuat suatu pelayanan berbasis digital berupa aplikasi yang berfungsi untuk antre pendaftaran di Rumah Sakit dan Puskesmas. Aplikasi ini menjadi sebuah inovasi dari produk pelayanan pendaftaran yang memudahkan para pasien untuk mendaftar, sehingga bisa mendaftar dari rumah melalui gudget dan kemudian datang ke RS/Puskesmas pada jam saat akan diperiksa. Nah inilah yang saya maksud sebuah masalah yang dianggap kejadian biasa namun ketika ditangkap orang yang tepat menjadi ide kreatif yang melahirkan inovasi. Proses kreatif yang melahirkan inovasi seperti tersebut banyak kita temui di Pemkot Kota Yogyakarta, oleh karena itu bagaimana agar kreatifitas dan inovasi tersebut mendapat perlindungan sebagai hak kekayaan intelektual. Kami mendorong, mengapresiasi dan memberikan penghargaan bagi lahirnya ide, proses kreativitas di kalangan ASN Pemkot Yogyakarta yang melahirkan karya inovasi berupa kemudahan, kecepatan, ketepatan dalam peningkatan kualitas pelayanan pemkot Yogyakarta. Demikian juga dalam tumbuh kembang dan penguatan UMKM di Kota Yogyakarta banyak program inovasi yang disematkan dalam Jogja Smart service/JSS seperti Dodolan dan nglarisi. Dan disisi lain kami juga sedang membangun data tunggal UMKM guna acuan dalam kebijakan dan program yang mengintegrasikan semua OPD dalam satu kerangka besar dimana masing-masing OPD memiliki peran, fungsi dan tanggungjawab masing-masing. Dalam kerangka besar itu akan muncul ide, gagasan, keratifitas yang melahirkan inovasi program pengembangan UMKM. Bersama-sama kita membangun eksistensi diri untuk melahirkan karya-karya inovasi di pemkot maupun masyarakat untuk mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Inovatif. Sementara Budi Agus Riswandi menyampaikan bahwa Hak kekayaan Intelektual itu tidak cukup dicatat tapi harus didaftarkan, karena kalau hanya dicatat baru sebatas administrasi, kalau didaftarkan akan memiliki konsekuensi hukum. Salah satu peserta FGD menyampaikan kalau untuk mengurus kelengkapan perijinan dan HKI sangat ribet dan sebagai pelaku bisnis lebih enak berdagang saja tanpa diribetkan oleh perijinan dan HKI. Mensikapi itu Asep Subagyo menjelaskan bahwa proses perijinan itu tidak ribet dan mudah. Memang semua butuh proses, yang mana ada tahapan pencocogan/kesesuaian data dilapangan. Dengan perijinan yang lengkap maka ceruk pasar akan semakin terbuka. Pemda DIY melalui Pergub No.21 tahun 2017 telah menetapkan penggunaan merk seperti Jogja Mark (menunjukkan identitas ciri produk yang proses produksi di DIY), 100% Jogja (menunjukkan identitas ciri produk yang bahan baku proses produksi di DIY) dan Jogja Tradition (menunjukkan identitas ciri pengetahuan tradisional/ekspresi budaya tradisional maupun produk khas DIY). Merk tersebut merupakan co branding yang membantu UMKM dalam penguatan image. Co branding tersebut telah didaftarkan secara nasional dan internasional pada dua Negara sehingga bagi UMKM yang menggunakan merk tersebut diatas akan memproleh manfaat dalam pemasaran baik lokal maupun ekspor. Sedangkan Adi Haryadi, menginspirasi peserta FGD melalui kisah sukses nDalem menuju bisnis berbasis HKI. FGD ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan bagi Penanya terbaik oleh Heroe Poerwadi. (ant)
Yogyakarta Pertahankan Predikat Kota Layak Anak Nindya
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Yogyakarta Pertahankan Predikat Kota Layak Anak Nindya
Kota Yogyakarta berhasil mempertahankan penghargaan sebagai Kota Layak Anak (KLA) dengan kategori Nindya untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Susana Yambise pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2019 di Hotel Four Point Sheraton, Kota Makassar, Selasa (23/7) malam. Selain itu, dalam acara yang sama, Puskesmas Mergangsan juga terpilih menjadi satu dari 21 Puskesmas dari seluruh Indonesia yang menerima penghargaan sebagai Puskesmas Ramah Anak. Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengaku bersyukur atas raihan tersebut dan mengungkapkan apresiasinya kepada berbagai pihak yang telah bekerja sama dalam mengupayakan Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak. "Saya sampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada berbagai pihak, baik pemerintah kota melalui DPMPPA, masyarakat, dan pihak lain yang telah saling menggandeng dan menggendong dalam berupaya mewujudkan Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak. Dari kota-kota yang non-pilot project predikat Nindya termasuk yang tinggi " Ungkap Wakil Walikota. Lebih lanjut, Wakil Walikota mengungkapkan, Pemerintah kota menargetkan tahun depan Kota Yogyakarta dapat meraih predikat tertinggi dalam KLA, yakni utama, untuk itu Pemkot melakukan berbagai upaya seperti memperbanyak fasilitas ramah anak serta mendorong pihak korporat untuk menyediakan lingkungan yang ramah anak. "Gedung komersial nantinya akan kita dorong untuk punya fasilitas yang ramah anak juga", Imbuhnya. Menteri Yohana menuturkan, penghargaan KLA merupakan bentuk apresiasi dari pemerintah pusat kepada daerah dan sekaligus mendorong pemerintah daerah untuk memotivasi keluarga, masyarakat, media, dan dunia usaha agar semakin paham terhadap upaya pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak "Selain itu, anak juga harus dilibatkan dalam pembangunan, bukan sebagai obyek, namun sebagai subyek," Tutur menteri Yohana. Lebih lanjut, Yohana juga meningatkan bahwa isu anak menjadi hal penting karena berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan urusan wajib non pelayanan dasar. "Pemerintah daerah tidak perlu takut melaksanakan komitmen melalui berbagai kebijakan, program, kegiatan, dan anggaran untuk urusan perempuan dan anak karena anak merupakan investasi ke depan, sesuai dengan komitmen PBB melalui SDGs bahwa anak-anak akan menjadi generasi penerus masa depan bangsa," Imbuh Yohana. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan, dan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta, Edy Muhammad mengatakan, dalam mewujudkan Yogyakarta sebagai kota yang menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi anak, ada empat hak anak yang harus dipenuhi, yakni hak hidup, hak tumbuh kembang, perlindungan dan hak berpartisipasi. "Menjadi kewajiban bagi pemangku kebijakan untuk memenuhi hak-hak tersebut," Tandasnya. Dalam upaya mewujudkan Yogyakarta sebagai kota yang ramah bagi anak-anak, saat ini Kota Yogyakarta sudah memiliki 190 Kampung Ramah Anak, 18 Puskesmas Ramah Anak, sementara seluruh sekolah di Kota Yogyakarta telah diinisiasi sebagai Sekoloah Ramah Anak. Selain itu Pemkot juga mendorong anak-anak untuk aktif berpartispasi dalam proses pembangunan di Kota Yogyakarta melalui Forum Anak Kota Yogyakarta (FAKTA) dan Musrenbang Anak.
Bersama 300 Pelajar SD  Se-Kecamatan Kotagede Gelar Simulasi Kebakaran
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Bersama 300 Pelajar SD Se-Kecamatan Kotagede Gelar Simulasi Kebakaran
Kantor Kecamatan Kotagede menggelar simulasi cepat tanggap bencana kebakaran pada Jumat (26/7). Terlihat petugas, pegawai kantor, dan anak-anak SD di seluruh Kecamatan Kotagede mengikuti simulasi kebakaran dengan penuh antusias. Menurut Ketua Satuan Relawan Kebakaran (SATLAKAR), simulasi ini dilakukan tanpa sepengetahuan anak-anak SD yang sedang mengikuti acara lomba tujuh belasan di Kecamatan Kotagede. Alur simulasi kebakaran dimulai dari instalasi yang meledak dan adanya koordinasi antara Camat dengan SATLAKAR untuk mengkondisikan peserta yang hadir. Dengan kepulan asap yang keluar dari atas disertai dengan suara ledakan dari dalam gedung, diiringi korban yang berhamburan yang dibuat heboh, serta petugas pemadam berlarian dengan sigap untuk memadamkan kebakaran dan menyelamatkan korban yang terjebak di dalam, membuat keadaan di area Kecamatan Kotagede terlihat nyata. "Korban dalam simulasi kebakaran terdapat 10 korban trauma akut yakni berjumlah tiga korban, yang patah tulang sekitar tiga korban, sisanya empat korban dan kita sebagai tim evakuasi yang akan mengkondisikan korban tersebut," ujar Setyo Raharjo selaku Ketua SATLAKAR. Simulasi ini melibatkan BPBD Yogyakarta, Petugas Pemadam Kebakaran, dan Puskemas Kotagede. Dengan adanya simulasi ini diharapkan pegawai dapat memahami tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. "Kami mengucapkan terimakasih kepada peran petugas yang ada, terdapat petugas BPBD, Puskesmas, Polisi, Petugas Kebakaran, serta Linmas, semua merupakan bagian dari simulasi kebakaran, semoga hal tersebut bisa menjadi bekal pengetahuan terkait bencana tadi bagi masyarakat," kata Nur Hidayat, Ketua BPBD Yogyakarta. Simulasi kebakaran digelar guna memberikan inspirasi, pengetahuan, pemahaman, dan juga respon dari masyarakat terkait dengan kebakaran bagi masyarakat, serta meminimalisir terjadinya bencana tersebut. Camat Kotagede mengatakan, simulasi ini memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesiap-siagaan karyawan terhadap bencana kebakaran terutama dalam melayani masyarakat. "Simulasi ini fokus dilakukan di kecamatan Kotagede yang pertama, untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesiap-siagaan karyawan terhadap bencana kebakaran karena kita setiap hari melayani masyarakat apalagi ruang atas sering digunakan untuk rapat dan tentunya hal-hal darurat akan kami persiapkan. Kedua, hari ini kita juga melibatkan komunitas yang ada di kecamatan Kotagedebaik bumi mataram rescue yaitu relawan dari Kotagede, kemudian satuan relawan kebakaran dalam rangka masyarakat mensinergikan dengan relawan. Ketiga, kita bersinergi dengan instansi yang ada di pemerintah kota," ungkapnya. Para peserta simulasi kebakaran ini sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Aacara ini diikuti oleh 300 anak SD Se-Kecamatan Kotagede dan 50 petugas dari kecamatan. "Simulasi tadi sangat hebat, saya tidak takut melihat itu tapi saya senang bisa melihat petugas pemadam yang menyelamatkan korban-korban," ujar Ridlo salah satu anak SD yang hadir dalam simulasi kebakaran tersebut. (Hes/SW)
5  In 1 Diterapkan di Seluruh Kecamatan
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
5 In 1 Diterapkan di Seluruh Kecamatan
Inovasi layanan administrasi kependudukan keluar bersama daftar satu dapat lima alias 5 in 1 mulai diterapkan di seluruh wilayah Kota Yogyakarta. Hal itu ditandai dengan ditandatanganinya kesepakatan bersama yang dilakukan oleh seluruh Camat dengan Dinas Kependudukan dan Catatan sipil di hadapan Wakil Walikota, Kamis (25/7/2019). Inovasi keluar bersama daftar 1 satu dapat 5, kata Heroe, merupakan langkah terobosan pelayanan publik dimana telah terintegrasi pelayanan berbagai dokumen dalam rangka mewujudkan tertib administrasi kependudukan. Pihaknya menerangkan, dengan program daftar 1 dapat 5 ini maka setiap pelaporan kelahiran oleh penduduk Kota Yogyakarta, secara bersamaan akan dibuatkan Akta Kelahiran, mendapatkan NIK (Nomer Induk Kependudukan), kartu keluarga baru, kartu identitas anak dan ditambah lagi buku kesehatan ibu dan anak. "Dengan adanya keluar bersama daftar 1 dapat 5 ini, akan terbentuk efesiensi dan efektifitas pelayanan, akselerasi kepemilikan dokumen anak sera sinergisitas diantara aspek kependudukan dan kesehatan," imbuhnya. Disamping 5 in 1, Heroe juga meminta layanan Kado 17 tahun yang sudah diterapkan di Kecamatan Gondomanan bisa juga diduplikasi di seluruh Kecamatan lainnya. Kado 17 tahun adalah inovasi layanan dimana penduduk yang sudah masuk usia 17 tahun secara otomatis akan mendapatkan KTP dan diberikan kado berupa buku yang menjelaskan bahwa yang bersangkutan sudah memiliki tanggungjawab sesuai hukum. "Ini sangat bagus, untuk memberikan bekal kepada generasi muda kita sejak awal agar mereka memiliki kesadaran terhadap dirinya sendiri, masyarakat bangsa dan negara," jelasnya Heroe. Pihaknya berharap program tersebut bisa segera diterapkan di seluruh kecamatan dan dikerjasamakan dengan pihak Kepolisian, Koramil, Puskesmas dan Dalduk KB untuk memberikan pemahaman terhadap penduduk yang telah memasuki usia 17 tahun. Kepala Disdukcapil Kota Yogyakarta, Sisruwadi menambahkan, Keluar bersama daftar 1 dapat 5 ini merupakan inovasi Pemerintah Kota Yogyakarta, yang awalnya diinisiasi di Kecamatan Danurejan, dan berhasil masuk kedalam TOP 99 inovasi pelayanan publik Indonesia. "Yang jelas layanan ini berujuan untuk memudahkan penduduk untuk mengurus dokumen kependudukan," ucapnya. Ia menjelaskan, dengan program ini maka warga akan lebih mudah mengurus data kependudukan. Caranya cukup datang ke Kecamatan. Kedepan layanan ini sepenuhnya akan dilakukan di Kantor Kecamatan. "Sehingga dengan begitu, warga akan lebih muda dan dekat karena semua proses bisa dilakukan di Kantor Kecamatan," tandasnya. (Tam)
Walikota Tekankan Pentingnya Literasi Pasar Modal
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Walikota Tekankan Pentingnya Literasi Pasar Modal
Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti berharap Bursa Efek Indonesia bisa memberikan literasi Pasar modal kepada masyarakat di Yogyakarta. "Kami berharap dengan hadirnya BEI di Yogyakarta ini bisa memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat yogyakarta tentang arti pentingnya investasi modal," ucap Haryadi saat meresmikan Gedung Baru BEI Kantor Wilayah Yogyakarta di Jalan Mangkubumi No 84 Yogyakarta. hal ini, kata Haryadi, merupakan sebuah kebanggaan dan tantangan bagi kami untuk terus meningkatkan motivasi dalam membangun perekonomian daerah melalui kehadiran lembaga keuangan yang mampu menjawab dinamika jaman saat ini. "Semakin pesatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat, maka fungsi lembaga keuangan dalam menghimpun dan menyalurkan dana ke masyarakat juga semakin diperlukan," imbuhnya. Pesatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat tidak lepas dari implementasi Otonomi Daerah yang memberi keleluasaan kepada daerah untuk membangun daerahnya sendiri. Pada kondisi demikian lembaga keuangan semakin strategis dalam rangka berpartisipasi menggerakkan perekonomian daerah. "Saat ini dinamika serta gaya hidup masyarakat modern akan kebutuhan jasa keuangan yang profesional, cepat, dan terpercaya semakin meningkat," katanya. Demikian pula dengan semakin beragamnya produk jasa keuangan yang ditawarkan sangat bermanfaat guna menjawab ekspektasi masyarakat dalam mempercayakan pengelolaan dana keuangan. "Mudah-mudahan dengan gedung baru ini aktifitas perdagangan yang dijalankan semakin intensif, mampu menjangkau seluruh kalangan untuk terlibat aktif dalam perdagangan saham," pungkasnya. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen berharap dengan adanya Gedung milik BEI sendiri, maka program-program yang dibuat terkait dengan sosialisasi terhadap masyarakat Yogyakarta ini bisa lebih intensif. Sehingga masyarakat bisa mengetahui hal-hal terkait dengan pasar modal Indonesia. "Kantor perwakilan ini juga diharapkan bisa menjadi Pusat Informasi terkait pasar modal, untuk pusat kegiatan edukasi perlindungan investor,"ujarnya. Pihaknya menyebutkan, untuk Yogyakarta BEI telah memiliki kegiatan galeri mungkin sudah 15 tahun. Hasilnya sekarang untuk investor saham di Daerah Istimewa Yogyakarta per Juni 2019 berjumlah 21.148 investor. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BEI Yogyakarta, Irfan Noor Riza menambahkan berbagai kegiatan telah dan akan dilaksanakan oleh kantor perwakilan Bursa Efek Indonesia Yogyakarta. Kegiatan edukasi terus dilaksanakan salah satunya adalah dengan membentuk kelas-kelas Bursa Efek. (Tam)
Tanam sayur, buah dan ternak lele untuk kemandirian pangan
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Tanam sayur, buah dan ternak lele untuk kemandirian pangan
Kampung Pandeyan merupakan salah satu dari tujuh kampung di Kelurahan Pandeyan tidak mau kalah dengan Kampung Gambiran yang telah melakukan budidaya lele cendol. Di Kampung Pandeyan di RW 05 ada kelompok bdidaya ikan lele yang bernama Lima Mina. Pada hari Juma"at sore, 26 Juli 2019 Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi melakukan tebar bibit lele cendol di empat kolam. Kolam lele yang terbuat dari buis beton dengan diameter 80cm yang diberi pipa pembuangan limbah. Dalam satu kolam direncanakan akan ditabur lele sejumlah 1050 ekor dan juga diberi pakan lele, pro aquatik dan pre biotik. Setelah melakukan tebar benih dilanjutkan acara sambung rasa dalam bentuk dialog dengan dipandu oleh Lurah Pandeyan. Sambung rasa yang diikuti oleh lima puluhan warga dan. Wakil Walikota Yogyakarta yang didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Camat Umbulharjo, Polsek, Koramil, Lurah Pandeyan dan OPD berlangsung serius namun santai. Suhardiman, salah satu warga anggota lima mina, mengajukan permohonan agar selain budidaya lele kampung Pandeyan juga difasilitasi untuk budidaya sayur dan buah baik dalam bentuk lorong hijau maupun pemanfaatan lahan kosong. Harapannya melalui kombinasi budidaya lele dan penanaman sayur-buah maka aktifitas dan kreatifitas warga Pandeyan akan semakin optimal. Menaggapi hal tersebut Heroe Poerwadi menjelaskan, bahwa beberapa hari yang lalu telah melaksanakan panen buah dan sayur di Kampung Badran, berbagai sayur dan buah dengan kualitas super dihasilkan dari halaman warga dan lorong kampung. Hasil panen tersebut telah mampu meningkatkan pendapatan warga Badran. Demikian juga di Kampung Gambiran juga telah dilaksanakan panen ikan lele dari tujuh kolam bulat. Dengan harga jual berkisar antara 18 ribu sampai 20 ribu maka budidaya lele juga menjanjikan untuk digeluti dan berhasil meningkatkan kesejahteraan warga. Terkait dengan kombinasi budidaya lele dengan sayur-buah maka telah dilaksanakan di Gedong Kiwo, kombinasi itu bisa menjadi lebih efektif dimana air buangan dari kolam lele bisa dimanfaatkan untuk pupuk bagi tanaman dan sayur, terlebih apabila dikombinasi dengan tabulapot maka akan lebih maksimal yang diperolehnya. Sehubungan dengan itu jika warga akan mengkombinasikan budidaya lele dengan sayur-buah maka bisa berkomunikasi dengan Pak Lurah agar memperoleh fasilitasi dari program Kelurahan. Harapan kami jika warga kampung di Kota Yogyakarta menanam sayur-buah dan melakukan budidaya lele maka Kota Yogyakarta dapat memenuhi kebutuhan Sayur,buah dan lele secara mandiri. Untuk itu diperlukan kebijakan dan strategi yang dilakukan secara bersama antara Pemkot dengan Masyarakat yang bergotong royong, saling membantu dan bersinergi satu sama lainnya. Kami optimis bahwa program ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan warga melalui peningkatan pendapatan dan pengentasan kemiskinan. Sementara kalau dilihat dari sisi inflasi yang salah satu poinnya adalah makan/kebutuhasn pokok maka dengan mandiri sayur,buah dan lele akan mampu menekan inflasi di Kota Yogyakarta. Mudah-mudahan apa yang kita upayakan menginspirasi warga lainnya untuk bersama mewujudkan Kota Yogya sebagai Kota Mandiri Pangan melalui Sayur, Buah dan Lele. (ant)
Pelajari Budaya Yogyakarta, Pemerintah Kawaguchi Kunjungi Pemkot Yogya
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Pelajari Budaya Yogyakarta, Pemerintah Kawaguchi Kunjungi Pemkot Yogya
Tak hanya wisatawan Indonesia yang suka pergi ke negeri Sakura, akan tetapi warga Jepang pun cinta berkunjung ke Indonesia. Selain Bali, destinasi lain yang juga menjadi favorit warga Jepang adalah Kota Yogyakarta. Walikota Kawaguchi, Okunoki Nobuo mengatakan jika warga Kawaguchi menjadikan Kota Yogya sebagai salah satu tujuan wisata favorit mereka seolah seperti rumah kedua. Sebab di Kota Yogya, wisatawan Jepang dapat menikmati kunjungan ke berbagai tempat bersejarah katanya saat berkunjung ke Pemkot Yogya, Jumat (26/7/2019). Menurut Okunoki, di Kota Yogya, mereka bisa melihat kebudayaan Yogyakarta yang khas, keramahtamahan warganya, mengunjungi tempat wisata alam, dan berbagai pusat kerajinan. Tanpa sungkan, mereka mengajukan berbagai pertanyaan seputar budaya di Kota Yogya dan berbagau tempat wisata yang ada di Kota Yogya seperti Keraton, Malioboro, pasar beringharjo serta wahana edukasi Taman Pintar. Sementara itu Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan kedatangan rombongan dari Kawaguchi tersebut dapat memperkuat Yogyakarta sebagai kota pariwisata berbasis budaya. Saya berharap para rombongan memahami budaya Yogyakarta, terutama di kawasan wisata keraton sehingga bisa merasakan langsung atmosfer Yogyakarta dan terkenang akan kenyamanan kota ini, ujarnya. Ia menambahkab jika Pemkot Yogya akan terus mempromosikan Pariwisata hingga kepenjuru dunia. Dengan semakin gencarnya promosi yang dilakukan pemerintah maka secara langsung juga meningkatkan kunjungan wisatawan Jepang ke Yogyakarta tegasnya. (Han)
Ribuan Warga Giwangan Ikuti Kirab
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Ribuan Warga Giwangan Ikuti Kirab
Pagi ini, Minggu (28/7/2019) ribuan warga Giwangan mengikuti kirab upacara adat sedekah karangkitri. Kirab tersebut mengambil start dari Jogja Fish Market dan finish di depan Kantor Kelurahan Giwangan Kota Yogyakarta. Kirab ini merupakan bentuk rasa syukur warga Giwangan karena telah dianugerahi hasil bumi yang melimpah. Beragam kesenian yang ada di Kelurahan di tampilkan dalam kirab tersebut. kontingen per Rukun Kampung (RK) membawa empat gunungan dari tiga Kampung se-Kelurahan Giwangan. Dengan potensi yang berbeda-beda. Di antaranya dari RK Mendungan misalnya karena berpotensi pada tanaman hasil bumi maka gunungan berupa sayur dan buah-buahan. Kemudian di RK Giwangan karena banyak masyarakat sebagai pelaku usaha maka gunungan berupa makanan yang disajikan sesuai dengan produknya. Berbeda dengan RK Ponggalan, dimana karena kampung ini memiliki potensi pada pabrik alumunium sehingga gunungan yang dibuat sesuai dengan potensinya seperti wajan, panci, teflon, dan lain sebagainya. Dalam kirab tersebut juga terdapat sebuah gunungan yang berisikan sayur mayur. Sesampainya di depan kantor kelurahan Giwangan, gunungan tersebut diperebutkan oleh warga. Lurah Giwangan, Anggit Syafrudin mengatakan, sedekah karangkitri merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat bisa memanen hasil bumi dari tanaman sayur dan buah-buahan yang ditanam di setiap pekarangan rumah warga. "Alhamdulillah tanamannya itu bisa berbuah dan dipanen, rasa syukurnya disitu," kata Anggit Ia mengungkapkan kirab tersebut juga bertujuan mempromosikan Giwangan sebagai salah satu Kelurhan Budaya di Yogyakarta. Seni budaya lanjut jangan hanya di uri-uri namun juga di pentaskan agar dapat memberi contoh kepada masyarakat luas dan agar mereka tahu bahwa warga Giwangan selalu melestarikan seni dan budaya lokal. Selain itu dengan digelarnya festival ini, diharapkan generasi muda khususnya milenial dapat berkontribusi. Sehingga, budaya yang ada dapat terus diturunkan dan dilestarikan oleh generasi penerus bangsa katanya. (Han)
Sejumlah Panitia Masjid Ikuti Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Sejumlah Panitia Masjid Ikuti Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban
Menjelang Hari Raya Idul Adha 1440 H, Pemerintah Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Badan Zakat Nasional (Baznas) Kota Yogyakarta memberikan pembekalan sekaligus pelatihan penyembelihan hewan qurban dan penanganan daging higienis di Masjid Pangeran Diponegoro, Senin (29/7/2019). "Kegiatan ini memberikan banyak manfaat dalam mempersiapkan sebaik mungkin pelaksanaan Hari Raya Qurban," ucap Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi usai membuka Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban Dan Penanganan Daging Higienis siang ini. Sebab, sambungnya, meskipun sudah menjadi rutinitas setiap tahun umat Islam namun tentunya setiap pelaksanaan terdapat perkembangan dan perubahan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu dibutuhkan persiapan yang matang, sebab perlu diingat bahwa persiapan yang baik adalah bagian dari sebuah profesionalisme. "Pada kesempatan pelatihan ini kami ingin memastikan betul bahwa seluruh panitia mengetahui tata cara kurban, tidak hanya secara syariah namun juga dari aspek kesehatan, kebersihan, higienitas baik sebelum dan sesudah penyembelihan," kata Heroe. Pihaknya berpesan kepada para petugas untuk dapat memastikan bahwa hewan qurban dalam keadaan sehat. Selain itu, juga harus lebih teliti dalam mengambil keputusan terhadap hewan yang sakit dengan melakukan pemeriksaan secara cermat sehingga nantinya daging qurban yang kita peroleh selain Halal juga layak untuk dikonsumsi. "Pengetahuan ini bertujuan untuk memastikan hewan yang disembelih bebas penyakit sehingga tidak sampai merugikan orang yang mengonsumsi dagingnya," imbuhnya. Heroe berharap materi pelatihan dari para narasumber dapat menambah pengetahuan tentang penyembelihan hewan kurban dan dapat dipraktekan di wilayah masing-masing. "Semoga materi ini bisa disosialisasikan ke seluruh panitia penyembelihan hewan qurban, tidak hanya di masjid " masjid namun juga sekolahan dan kampus," ujarnya. Sebelumnya Ketua Baznas Kota Yogyakarta, Samsul Azhari menjelaskan bahwa acara tersebut dilakukan setiap tahun. Tujuannya adalah untuk memberikan pembekalan kepada panitia kurban agar melaksanakan ibadah sesuai tuntutan syariat Islam dan mempertimbangkan psikologi hewan. "Selama ini tak banyak orang yang memahami terkait psikologi hewan, untuk itulah kami tekankan pengetahuan tersebut," tandasnya. Untuk itulah Samsul Azhari menggandeng sejumlah ahli dari Universitas Gadjah Mada untuk memberikan penjelasan terakit hal tersebut. (Tam)