Dampak Invasi Darat Israel di Rafah bagi Penduduk Sipil Gaza

Bantu Palestina dengan Berdonasi disini: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
Pada 21 Maret 2025, situasi di Gaza semakin memanas setelah Israel melancarkan invasi darat besar-besaran di kota Rafah, yang terletak di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir. Invasi ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade, dan menimbulkan kekhawatiran serius tentang keselamatan penduduk sipil serta dampak kemanusiaan yang lebih luas. Rafah, yang sebelumnya menjadi tempat berlindung bagi ribuan pengungsi, kini menjadi pusat pertempuran sengit antara pasukan Israel dan kelompok bersenjata Palestina.
Latar Belakang Invasi Israel di Rafah
Rafah telah menjadi salah satu titik kritis dalam konflik Israel-Gaza. Kota ini merupakan pintu masuk utama bagi bantuan kemanusiaan melalui perbatasan dengan Mesir, serta menjadi tempat tinggal bagi ribuan pengungsi yang melarikan diri dari serangan-serangan sebelumnya di utara Gaza. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Israel menuduh Rafah sebagai basis operasi utama kelompok bersenjata Palestina, termasuk Hamas, yang dianggap sebagai ancaman keamanan.
Pada awal Maret 2025, Israel mengumumkan rencana untuk memperluas operasi militernya ke Rafah, dengan alasan menghancurkan infrastruktur militer Hamas dan menghentikan serangan roket yang diluncurkan dari wilayah tersebut. Invasi darat dimulai pada 20 Maret 2025, dengan pasukan Israel memasuki Rafah dari beberapa arah, didukung oleh serangan udara dan artileri.
Dampak pada Penduduk Sipil
Invasi darat Israel di Rafah telah menimbulkan dampak yang menghancurkan bagi penduduk sipil. Menurut laporan awal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya 200 warga sipil tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka dalam 24 jam pertama invasi. Banyak korban adalah anak-anak, wanita, dan orang tua yang tidak mampu melarikan diri dari zona konflik.
Rafah, yang sebelumnya menjadi tempat berlindung bagi lebih dari 500.000 pengungsi, kini menjadi zona perang. Ribuan keluarga terpaksa mengungsi untuk kedua atau ketiga kalinya, mencari perlindungan di sekolah-sekolah, masjid, dan bangunan publik lainnya. Namun, dengan infrastruktur yang sudah hancur akibat konflik sebelumnya, fasilitas-fasilitas ini tidak mampu menampung jumlah pengungsi yang terus bertambah.
Krisis Kemanusiaan yang Semakin Parah
Invasi Israel di Rafah memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah di Gaza. Pasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan semakin menipis, sementara akses bantuan kemanusiaan terhambat oleh pertempuran yang terus berlangsung. PBB melaporkan bahwa lebih dari 80% penduduk Gaza kini bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Rumah sakit di Rafah dan sekitarnya kewalahan menangani korban luka. Menurut Médecins Sans Frontières (MSF), banyak rumah sakit kehabisan stok obat-obatan esensial dan bahan bakar untuk generator, yang mengancam operasi medis yang menyelamatkan nyawa. Selain itu, serangan udara Israel telah menghancurkan beberapa fasilitas kesehatan, termasuk klinik dan ambulans.
Bantu Palestina dengan Berdonasi disini: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
Reaksi Internasional
Invasi Israel di Rafah telah memicu kecaman keras dari komunitas internasional. Sekretaris Jenderal PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan dan menyerukan gencatan senjata segera. Uni Eropa juga mengeluarkan pernyataan yang menuntut Israel untuk menghormati hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil.
Namun, Israel membela tindakannya dengan alasan keamanan nasional. Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa operasi militer di Rafah diperlukan untuk menghancurkan kemampuan militer Hamas dan menghentikan serangan roket yang mengancam warga Israel.
Masa Depan yang Tidak Pasti
Dengan invasi darat yang masih berlangsung, masa depan Gaza semakin tidak pasti. Penduduk sipil terjebak di tengah pertempuran, sementara bantuan kemanusiaan sulit diakses. Banyak ahli memperingatkan bahwa invasi ini dapat memicu gelombang pengungsian besar-besaran ke Mesir, yang dapat memperburuk ketegangan regional.
Di tengah situasi yang semakin kacau, seruan untuk perdamaian dan solusi politik yang berkelanjutan semakin mendesak. Tanpa upaya serius untuk mengakhiri siklus kekerasan, Gaza akan terus menjadi wilayah yang dilanda penderitaan dan kehancuran.
Bantu Palestina dengan Berdonasi disini: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.
https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ashifuddin Fikri
Writer: Nur Isnaini Masyithoh