Menempa Diri Membentuk Jiwa Ikhlas Makna Peringatan Idul Adha 1444 H

UMBULHARJO - Rabu pagi (28/6) cuaca yang cerah mengiringi Sholat Idul Adha di Balaikota Yogyakarta, pada hari pertama Peringatan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Idul Adha tanggal 10 Dzulhijah Tahun 1444 Hijriyah. Sebanyak kurang lebih 2000 umat Muslim berbondong-bondong untuk menunaikan ibadah sholat dengan khidmat, sebelum selanjutnya pemotongan kurban dilaksanakan di beberapa masjid di Kota Yogyakarta.


Sholat Ied dipimpin oleh Imam Ustadz Wafi Abdul Qudus, dengan Khutbah oleh Ustadz Achmad Charris Zubair dengan tema “Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Tampak para jemaah umumnya adalah warga sekitar Balaikota seperti wilayah Kelurahan Semaki, Mujamumuju, Warungboto, Pandeyan, Tahunan, dan bahkan banyak warga yang berasal dari daerah lain di DIY dan pengunjung dari luar DIY.
“Saya kebetulan melaksanakan Sholat Ied pagi ini di Balaikota bersama anak dan istri, walaupun saya aslinya tinggal di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen, karena di sini saya bisa bertemu saudara-saudara, handai taulan, teman, rekan kerja dan sahabat sekaligus juga bisa bersilaturahmi karena ini merupakan moment yang langka bisa ngumpul bersama di sini, apalagi di sini juga ketemu beberapa teman yang sudah purna tugas”, ungkap Hari Wahyudi, Staf Ahli Walikota Yogyakarta Bidang Administrasi Umum.


Dalam khotbah-nya, Ahmad Charris Zubair, yang juga seorang budayawan, penulis buku asal Kotagede yang juga aktif di Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, menjabarkan bahwa Idul Kurban merupakan simbolisasi makna ibadah meneladani jejak pengorbanan Nabiyullah Ibrahim AS dengan putranya Ismail AS. Simbolisasi mengenai pengendalian diri dan solidaritas sosial, di mana umat Islam perlu menempa diri akan jiwa ikhlas berbagi kepada sesama manusia, merelakan apa yang sangat kita cintai untuk kita berikan kepada Allah SWT, umat Islam, serta kaum dhuafa yang membutuhkan di sekitar kita, sebagai wujud solidaritas silaturahim ukhuwah Islamiyah.


Hal tersebut dilambangkan juga dengan beberapa tahapan dalam moralitas seseorang, yang dimulai dari Nanding Salira, yaitu sifat egosentris, kemudian berubah menjadi sifat Tepa Salira, yang bermakna menghormati orang lain, dan terakhir menuju kepada sifat Mulat Salira Hangrawasani, yang berarti kemampuan untuk introspeksi, mawas diri, dan mengikhlaskan diri yang mengangkat derajat manusia pada kedudukan yang tertinggi.
 

Selain itu, juga disampaikan agar dalam menyongsong Pemilu Serentak pada tanggal 14 Februari 2024 mendatang agar seluruh umat tetap menjaga silaturahmi persatuan dan kesatuan, tidak terpecah-belah karena pendapat dan kepentingan, menahan diri menjaga perilaku dan kata-kata untuk mengawal Pemilu yang Jujur dan Bermartabat, agar sukses dalam memilih pemimpin yang adil, mengayomi seluruh rakyat serta Rahmatan lil Alamin.

Berdasarkan informasi Kementerian Agama Kota Yogyakarta bahwa dalam 2 (dua) hari perayaan Hari Raya Idul Adha 1444 H, penyembelihan Kurban dilaksanakan di 181 lokasi Masjid, Langgar, Musholla, serta beberapa lapangan tempat terbuka, yang tersebar di seluruh 14 Kemantren, 45 Kelurahan di Kota Yogyakarta. Sementara, pelaksanaan Idul Qurban yang dilaksanakan pada tanggal 28 dan 29 Juni 2023, diharapkan agar tidak menjadi masalah, kiranya seluruh umat Islam tetap saling menghormati sebagai bentuk penghormatan kepada keberagaman pendapat, yang semuanya itu bertujuan untuk meningkatkan ke-taqwa-an dan jiwa tawakal kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa (fra)