Senin 00/00/0000 00:00 WIB |
Peserta Raker Komwil III Apeksi Menyusuri Sudut-Sudut Kuno Kotagede
Di hari ketiga Rapat Kerja Koordinator Wilayah III Apeksi 2018, peserta diajak Walikota Yogyakarta menyusuri sudu-sudut kuno Kotagede, jum"at (20/4). Dimulai sejak pukul sembilan hingga menjelang dzuhur peserta begitu antusias dan terkesima dengan keunikan Kotagede sebagai salah satu wilayah tertua se-Yogyakarta.
Blusukan dimulai dari dalem sopingen yang letaknya tidak jauh dari pasar legi kotagede. Dipandu Ahli sejarah Kotagede sekaligus Filantrophis lokal Nasir, peserta dikenalkan sejumlah bangunan tua yang memiliki sumbu filosofi agung. Mereka dikenalkan asal muasal Kotagede.
"Sebelum 1952 wilayah ini merupakan bagian dari Kasunanan. Semula, Kotagede adalah nama sebuah kota yang merupakan Ibukota Kesultanan Mataram. Selanjutnya kerajaan itu terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta," ucap Nasir saat menjelaskan rentetan sejarah Kotagede kepada peserta Raker Komwil III Apeksi.
Usai mendalami asal muasal Kotagede beserta memahami arsitektur rumah yang berada di sekitaran ndalem sopingen, peserta pun diajak menyusur ke sebelah timur. Disanalah para peserta dikenalkan dengan beberapa bangunan tua, seperti bekas pabrik kain yang pernah tersohor tempo delu.
Tak jauh dari lokasi bekas pabrik kain, peserta pun diajak melewati Masji Perak yang memiliki keunikan sekaligus menjadi salah satu ikon religi baru-baru ini. Bergerak ke arah selatan, Peserta diajak untuk flasback mengingat tragedi gempa bumi yang terjadi pada 2016 silam.
"Saat itu, di lokasi ini sangat mencekam. Semua bangunan ini mengalami kerusakan akibat bencana gempa bumi kala itu," jelas Nasir.
Setelah menyusuri perjalanan yang agak panjang, peserta pun bergeser ke pasar paling bersejarah yakni pasar legi Kotagede. Tak tanggung-tanggung peserta pun diajak masuk pasar yang pernah diinisiasi sultan agung tersebut.
Pasar Kotagede dulunya dikenal dengan nama Pasar Gede atau Sargede yang merupakan pasar tradisional yang dibangun pada masa Panembahan Senopati. Keramaian Pasar Gede masih bisa dirasakan ketika penanggalan Jawa menunjukkan pasaran Legi. Sehingga sekarang lebih dikenal sebagai Pasar Legi Kotagede.
Pasar ini sudah ada sejak zaman kerajaan mataram pada abad ke-16 dan termasuk pasar tertua di Yogyakarta. Pasar ini dapat menggambarkan bahwa dulunya masyarakat sekitar Kotagede banyak yang berprofesi sebagai pedagang dan perajin.
Usai dari pasar legi Kotagede, peserta pun napak tilas ke Masjid Mataram Kotagede sekaligus menilik makam-makam para raja yang tepat berada bersebelahan di Masjid Mataram Kotagede.
"Masjid Agung Kotagede dibangun pada zaman kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sultan Agung bergotong-royong dengan masyarakat setempat yang pada umumnya waktu itu beragama Hindu dan Budha.," Kata Nasir.
Masjid Kotagede Yogyakarta sudah berusia ratusan tahun memiliki sebuah prasasti yang menyebutkan bahwa Masjid tersebut dibuat dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung yang berhasil membangun inti masjid yang berukuran kecil yang disebut langgar. Tahap kedua masjid ini dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X.
Di Masjid tertua se-Yogyakarta inilah para Peserta Rakermowil III Apeksi 2018 mengakhiri blusukan sejarahnya. Mereka pun berksempatan untuk merasakan suasan Sholat Jum"at di Masjid Kotagede. (Tam)