Senin 00/00/0000 00:00 WIB |
Wujudkan Kota Tanpa Kumuh, Semua Pihak Harus Berkolaborasi
Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi meminta semua pihak untuk berkolaborasi dan memiliki pemahaman yang tunggal dalam mewujudkan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Yogyakarta. Menurut Heroe, kolaborasi harus dimulai sejak tahap perencanaan.
"Kami bersama-sama mengundang masyarakat untuk memahami rencana yang sama agar tercipta pemahaman yang sama pula akan pembangunan dan pengentasan kekumuhan di wilayah. Jangan sampai apa yang dilakukan Pemerintah Kota tidak seiring dengan yang direncanakan masyarakat" Tutur Heroe dalam acara Pelatihan Program Kotaku bagi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), Camat, dan Lurah di Kota Yogyakarta, Selasa (23/10) pagi di Ruang Bima Balai Kota.
Lebih lanjut, Heroe menuturkan. Penataan lingkungan kumuh memiliki peran penting dalam mewujudkan Yogyakarta sebagai kota yang nyaman huni dan mendorong produktifitas warganya.
"Lingkungan yang baik akan menjadikan masyarakat memiliki optimisme karena ruang lingkup hidup yang nyaman menjadikan masyarakat produktif dan mampu memaksimalkan potensinya" Imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP), Tri Rahayu mengatakan, Pemerintah Kota memiliki peran penting dalam penanganan kawasan kumuh, yakni sebagai penggerak bagi masyarakat.
"Selain menyiapkan lahan dan melakukan pembangunan fisik, Pemkot juga punya peran penting sebagai nahkoda yang mampu menggerakkan masyarakat, mulai dari tahap perencanaan sampai pengelolaan" Ungkap Tri Rahayu
Sementara Kepala Sub Bidang Pekerjaan Umum dan Permukiman Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Silvi Maynina mengungkapkan, pengentasan kekumuhan menjadi salah satu perhatian pembangunan di Kota Yogyakarta melalui Renstra yang ditajamkan dengan 12 pokok pikiran.
"Ada empat pokok pikiran yang sinergis dengan program kotaku, yakni revitaliasi sungai, menciptakan kota yang nyaman huni, penambahan Ruang Terbuka Hijau, dan ruang kreatifitas anak muda" Katanya.
Program Kotaku di Kota Yogyakarta sendiri hingga saat ini sudah berjalan dengan baik. Menurut Muhammad Sofyan selaku Ketua Forum Komunikasi BKM, hingga akhir tahun ini target 50% Program Kotaku dapat tercapai atau tersisa 144 hektare. Sejumlah upaya yang sudah dilakukan untuk pengurangan luasan kawasan kumuh di antaranya penataan reguler di sejumlah kelurahan di sepanjang Sungai Gajah Wong, di antaranya Sorosutan, Muja-Muju, dan Warungboto. Selain itu dilakukan juga penataan kawasan di sepanjang bantaran Sungai Winongo.
Penataan kawasan kumuh di Kota Yogya akan terus dilakukan dengan target mengurangi luasan kawasan kumuh yang tersisa agar memenuhi target nasional 100-0-100. Yakni 100 persen sanitasi, nol persen Kawasan kumuh, dan 100 persen akses air bersih pada akhir 2019. (ams)