Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Manfaatkan Program Padat Karya, Warga Bener Bangun Jalan Sepanjang 540 Meter
Kelurahan Bener, Tegalrejo Yogyakarta merealisasikan pembangunan jalan sepanjang 540 meter melalui program padat karya (PKT). Hasil pembangunan infrastruktur tersebut sangat diapresiasi oleh Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi. "Kelurahan Bener memang sedang fokus melakukan pembangunan infrastruktur untuk mendorong kemajuan wilayah," kata Heroe Poerwadi saat meresmikan hasil padat karya di RW 7 Kelurahan Bener, Tegalrejo Yogyakarta, Rabu (26/9/2018). Pihaknya berharap pembangunan infrastruktur berupa pembangunan jalan tembus cor blok di Kelurahan Bener mampu mendorong kesejahteraan masyarakat. "Keberadaan jalan tersebut membuat warga lebih mudah melakukan aktifitas di sana, bagi yang memiliki usaha juga akan lebih berkembang, serta harga tanah di Bener juga bisa lebih tinggi," jelasnya. Heroe pun menilai Kelurahan Bener memiliki potensi untuk bisa lebih maju lagi karena memiliki potensi yang cukup besar. "Untuk itulah Pemerintah pun harus bisa mendukung kesiapan infrastruktur yang memadai," imbuhnya. Heroe pun mengapresiasi terobosan yang dilakukan Warga Bener yakni membuat biopori jumbo untuk bisa menangkap air hujan. Warga juga mengusulkan tanah lapang agar dibeli Pemkot untuk bisa dijadikan embung. Dan yang paling penting dari program ini adalah kekompakan warga untuk bersama-sama membangun wilayahnya. Heroe pun mengapresiasi sejumlah warga yang telah merelakan tanahnya untuk pembangunan jalan. "Karena jika dinominalkan, maka nilainya bisa mencapai sekitar Rp.7 miliar dan warga tidak meminta ganti rugi," ungkapnya. Program Padat karya ini, sambung Heroe, merupakan perwujudan Program Gandeng Gendong dalam penataan lingkungan. Tujuan padat karya ini agar uang dapat kembali ke masyarakat, "Jangan sampai malah membuat proyek tapi orang lain yang didatangkan ke Yogya karena padat karya ini untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat, jadi yang mengerjakan pun seharusnya warga sini," tandasnya. Ketua RW 7 Kelurahan Bener, Bambang Yuniarto menambahkan, pembangunan jalan cor blok di Bener merupakan hasil kerja keras dan gotong royong warga Bener. "Sehingga kami berhasil membangun jalan tembus cor blok dengan lebar 3 meter dengan panjang 450 meter dan dikerjakan sekitar 50 warga," urainya. Pihaknya mengaku masih akan terus melakukan pembangunan infrastruktur di Bener, diantaranya adalah pembangunan jalan tembus menuju jalan-jalan besar seperti Godean dan jalan Kyai Mojo. "Warga sangat mendukung pembangunan jalan ini bahkan mereka tidak meminta ganti rugi untuk lahan mereka yang digunakan untuk jalan," imbuhnya. Pihaknya pun mengaku telah melakukan sosialiasi terkait rencana pembangunan dan pelebaran jalan tersebut. Mereka pun bahkan merelakan mundur karena ada pelebaran jalan 6 meter. Meski begitu, Ia juga mengaku maish ada beberapa warga yang belum mundur, namun pihaknya akan terus melakukan pendekatan agar mereka merelakan tanahanya untuk mundur. (Tam)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Pemkot Yogya Terus Lakukan Pengentasan Kemiskinan
Berbagai upaya dan strategi Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk entaskan kemiskinan di Kota Yogya terus dilakukan, salah satunya adalah dengan Program Gandeng Gendong yang di luncurkan 10 April 2018 lalu. Program ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bergotong-royong membantu warga lain yang masih mengalami kesulitan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama warga miskin agar lebih sejahtera. Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, menerangkan Program Gandeng Gendong sendiri dilaksanakan melalui sejumlah program seperti Simsnack yang mengarahkan pembelian makanan OPD-OPD ke daerah masing-masing. Ada pula Sim Pemberdayaan yang akan menerapkan NIK kepada tempat-tempat usaha. "OPD-OPD sudah sepakat membeli harus di lingkungan masing-masing, jika setahun dana makanan Rp 38 miliar, per kelurahan bisa mendapatkan Rp 70 juta setahun, dan kalau digunakan benar-benar setiap tahun minimal bisa mengurangi 35 warga miskin," ujar Wawali saat berdialog bersama warga Karangwaru dalam acara Jogja Gumregah di Karangwaru riverside, Rabu (26/9). Program Gandeng Gendong tersebut, lanjutnya melibatkan seluruh elemen pembangunan yang ada. Perwujudannya dilakukan melalui pengembangan semua pemangku kebijakan sesuai kewenangan masing-masing. "Bersama dengan berbagai elemen komunitas, kampus dan kampung saling mengisi, berkolaborasi serta menggunakan potensi terbaik yang dimiliki untuk bersama-sama mendukung pelaksanaan program pembangunan guna mengangkat warga masyarakat kota Yogyakarta ke derajat hidup yang lebih tinggi" ungkapnya Oleh karena itu, lanjutnya, kerjasama yang baik antara berbagai elemen masyarakat Kota Yogya menjadi sangat penting karena hanya dengan bersatu bahu-membahu, kita bisa meraih tujuan dan cita-cita yang kita impikan. "Visinya bersama, bersatu, memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat, misinya tiga menanamkan nilai etika budaya gotong royong, mewujudkan gandeng gendong dan meningkatkan partisipasi stakeholder," katanya. Selain itu, Pemkot Yogya juga memiliki Forum Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan (CSR) Kota Yogyakarta yang beranggotakan para pemangku kepentingan, yakni Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat. Forum ini bertugas untuk membangun kesepahaman antara Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat bahwa pembangunan di Kota Yogyakarta adalah tanggung jawab bersama. Semua pelaku dunia usaha yang memiliki lokasi bisnis di Kota Yogyakarta, lanjutnya, untuk dapat membantu memberdayakan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat serta mengentaskan kemiskinan. "Apabila telah memilih Kota Yogyakarta sebagai lokasi berbisnis untuk mengembangkan usahanya, maka wajib membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kota Yogyakarta" ujarnya. (Han)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Rejowinangun Disiapkan Menjadi Kampung Agro
Geliat Kelurahan Rejowinangun membangun agrowisata semakin nampak dengan berkembangnya kampung holtikultura buah dan sayur serta kampung florist. Menyusul hal itu, Rejowiangun pun disiapkan menjadi kampung agro. "Kita berharap masyarakat sebagai subyek dari perubahan membentuk Rejowinangun sebagai pusat atau kampung agro yang ada di Kota Yogyakarta," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto saat menghadiri workshop kampung agro di Rejowinangun, Kotagede, Rabu (27/9/2018). Pihaknya memastikan Kecamatan Kotagede masih menyisakan lahan produktif sekitar 4,5 hektar, di Rejowinanguns sekitar 3 hektar. "Untuk itulah harus ada pemanfaatan lahan sempit untuk bisa dimanfaatkan dalam bentuk tanaman pola perkotaan. Bisa sawi bisa selada yg usianya pendek namun punya nilai jual yg cukup," lanjutnya. Dengan kampung agro ini, pihaknya akan mendorong masyarakat untuk melakukan budidaya, penanaman, bercocok tanam kaitannya dengan aspek pemanfaatan secara lokal. "Untuk meningkatkan daya tahan pangan dalam masyarakat," imbuhnya. Selain itu, keberadaan kampung agro di Rejowinangun diharapkan bisa meningkatkan nilai ekonomi dalam masyarakat dan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana budidaya pertanian. Sebelumnya Rejowinangun memang telah memiliki pusat agro. Kampung yang terkenal dengan kampung sayur ini centralnya berada di wilayah Kampung Pilahan RW 12 sedangkan kampung flori berada di RW 13. "Kampung Agro Rejowinangun ini akan kami sipkan lima cluster, yakni agro, herbal, budaya, kuliner dan kerajinan," jelas Sugeng. (Annisa)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
PPID Kota Yogya Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Badan Publik 2018
Kerja keras yang dilakukan Pejabat Pengelola Informasi Daerah (PPID) Kota Yogya dalam meningkatkan kualitas pelayanan informasi publik akhirnya membuahkan prestasi. Malam ini PPID Kota Yogya meraih juara terbaik pertama kategori PPID Utama dalam ajang pemberian penghargaan Keterbukaan Informasi Badan Publik tahun 2018 yang diberikan oleh Komisi Informasi Daerah (KID) Provinsi DIY. Ketua Komisi Informasi Daerah (KID) DIY, Hazwan Iskandar Jaya mengatakan penghargaan yang diberikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan keterbukaan informasi publik kepada masyarakat. Ia menjelaskan untuk penilaiannya, dilakukan dengan cara monitoring dan evaluasi yang dilakukan dalam beberapa proses dan telah melalui pengkajian Badan Pengkajian Pengembangan Komunikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi RI. "Tahapan yang dilakukan yaitu self assessment (SAQ) berupa pengisian kuesioner oleh seluruh badan publik, verifikasi website badan publik, serta tahap visitasi berupa wawancara, verifikasi dokumen dan pembuktian sejauh mana informasi dikuasai oleh badan publik" ujarnya usai acara, di Bangsal Kepatihan, Kamis malam (27/9). Menurutnya penilaian tersebut merupakan hasil monitoring dan evaluasi keterbukaan informasi pada badan publik negara dan non negara di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2018. Ia pun memberikan apresiasi kepada PPID Utama Kota Yogya yang telah berupaya mengimplementasikan keterbukaan informasi kepada badan publik yang berada di bawah koordinasinya sehingga mempermudah akses informasi publik pada masyarakat luas. Dijumpai usai menerima penghaargaan, Ketua PPID Utama Kota Yogya, Tri Hastono mengatakan, penghargaan tersebut sangat penting sebagai pendorong tumbuhnya semangat transparansi di daerah. "Sehingga hak masyarakat untuk mengetahui, mendapatkan informasi dan mendapatkan pelayanan publik berjalan dengan baik" ungkapnya. Menurutnya di era reformasi sekarang ini dibutuhkan adanya keterbukaan informasi publik yang transparan, akuntabel dan melibatkan masyarakat di dalam pengambilan keputusannya. Pemerintah dituntut untuk terbuka dan tidak menutupi apa yang dilakukan. "Jadi semua yang dilakukan pemerintah bisa dilihat oleh masyarakat. Ini adalah satu kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang harus direalisasikan," tegasnya. Sementara itu Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan suatu prestasi yang membanggakan dan patut mendapatkan apresiasi. Prestasi ini juga diharapkan dapat memotivasi PPID Utama dan PPID pembantu untuk terus bisa memberikan yang terbaik bagi publik sesuai ketugasannya. Iapun menghimbau kepada semua OPD maupun BUMD yang ada di Kota Yogya untuk terus mengingat pentingnya informasi bagi masyarakat sehingga hak tahu masyarakat dapat dipenuhi sebab ada beberapa kategori-kategori informasi yang wajib diberikan pemerintah kepada masyarakat. (Han)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Jogjakarta International Batik Bienalle (JIBB) 2018 Kembali Digelar
Tanamkan cerita sejarah lewat Batik melalui Ajang Gebyar Batik Kota Yogyakarta yang sedang berlangsung mulai 28 September hingga 29 September 2018 di Plaza Ngasem, Kota Yogyakarta. Kesenian Batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus Lestari di Pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Bahkan sampai sekarang masih melekat di masyarakat. Hal ini yang membuat Batik merupakan salah satu kebanggaan yang dimiliki Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Dalam rangka Perayaan Besar Budaya untuk Batik diadakan kembali di Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta menjadi predikat Kota Batik Dunia maka diadakan kembali Jogjakarta International Batik Bienalle (JIBB) 2018 yang memang direncanaka diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Sekitar 75 stand batik memenuhi Plaza Ngasem Yogyakarta, 50 diantaranya merupakan pengrajin batik yang berasal dari Yogyakarta, sementara 25 lainnya merupakan pengrajin dari kabupaten lain seperti Gunung kidul, Sleman dan Bantul. Pada acara ini Kota Yogyakarta menjadi sentra Batik Nusantara diharapkan ada beberapa eksibisi Batik dari internasional. Konsekuensi predikat Internasional inilah yang akan semakin memperkuat Batik sebagai suatu Identitas Indonesia kepada Dunia melalui Kota Yogyakarta. Acara JIBB 2018 terbagi menjadi dua bagian yaitu Diskusi Batik dan Pameran. Selain dengan kegiatan symposium dan pameran, JIBB 2018 juga mengadakan tour yang bertajuk heritage tour. Tour ini merupakan tur dalam menyelami Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Situs-situs menarik dan bersejarah akan disajikan dalam tur tersebut. Kegiatan ini juga didukung para pengrajin batik, pecinta batik, pengguna batik, pengamat batik dan seniman-seniman Batik pun dapat larut dalam kemeriahan Gebyar Batik Kota Yogyakarta sebagai salah satu rangkaian acara Jogja International Batik Biennale 2018. Kepala Dinas Perindusterian dan Perdagangan DIY, Tri Saktiyana mengungkapkan Batik Kota Yogyakarta merupakan nilainya tertinggi di banding kota-kota lainnya. "Dari sisi komersialisasi batik mulai dari Budaya, velue, sejarah, komitmen terhadap lingkungan menyebut jogjakarta nilainya tertinggi di banding kota-kota lainnya" Tri Saktiyana menambahkan kekuatan batik yaitu merupaakan Warisan budaya tak benda."Unesco mengatakan Warisan budaya tak benda, jadi Cerita di balik kain batik itulah yang bernilai di bawah kain batiknya"ujarnya Hingga kini Batik telah menjadi seni milik dunia Internasional yang memperoleh popularitas lingkup global. Realitas seperti ini sepantasnya menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia guna menjaga kelestarian batik tradisional di tanah air agar tetap dapat eksis. Wakil Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendorong lahirnya seniman batik yang mampu menciptakan karya bermutu tinggi. "disamping itu kami senantiasa mendorong lahirnya seniman batik yang mampu menciptakan karya bermutu tinggi, penuh inspirasi dan inovasi" ujarnya. Ajang Gebyar Batik Kota Yogyakarta merupakan sarana mengetengahkan keunggulan budaya batik Indonesia sebagai warisan budaya nasional. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata dari upaya melestarikan keberadaan Batik Jogja sekaligus merupakan kegiatan yang dapat menjadi daya tarik wisatawan. Haryadi Suyuti juga mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta sangat menyambut baik gelaran menarik ini karena acara yang dihadirkan sangat strategis bagi pengembangan batik di Indonesia. "kami sangat menyambut baik gelaran menarik ini sebab merupakan momentum yang sangat strategis bagi pengembangan batik di Indonesia, dan juga sebuah kesempatan emas untuk mengangkat tradisi batik di tingkat dunia."ujarnya. Haryadi Suyuti menambahkan melalui momentum ini dijadikan penyemangat untuk senantiasa memiliki rasa handarbeni terhadap Batik. "marilah momentum ini kita jadikan penyemangat untuk senantiasa memiliki rasa handarbeni terhadap Batik sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Jogjakarta, sehingga predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia senantiasa melekat" ungkapnya. (Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Enam Tokoh Seni dan Budaya Mendapatkan Penganugrahan Budaya
Penganugrahan Budaya merupakan bentuk apresiasi dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Dinas Kebudayaan, atas komitmen para pelestari budaya dalam melakukan pemberdayaan dan merawat aset Budaya. Penghargaan ini digelar di Bale Raos Yogyakarta, Sabtu (28/9). Sekitar enam masyarakat yang melestarikan Budaya terpilih sebagai penerima penghargaan ini. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Eko Suryo Maharsono mengatakan acara ini diadakan setiap tahun sekali guna memberikan penghargaan bagi para Pelestari Budaya yang ada di Kota Yogyakarta. "Kegiatan ini dilaksankan setiap tahun sekali untuk memberikan penghargaan bagi seniman pada jamannya yaitu tokoh-tokoh pelindung kebudayaan, yang diharapankan lebih memberikan suatu suasana yang semangat untuk para seniman yang ada di Yogyakarta" ujarya. Eko Suryo Maharsono menambahkan, semoga ini menjadi sebagaian kecil dari kita untuk Seni dan Budaya yang ada di Kota Yogyakart. "Pada malam hari ini semoga ini menjadi sbgaian kecil dri kita untuk memberikan yang kecil kecil itulah menjadi yang berarti"ujarnya. Selain itu dalam kegiatan ini ada beberapa faktor dan kategori dalam pemberian penilaian penerimaan penghargaan Budaya. Diantaranya sebagai kategori pelestari dan penggiat adat dan tradisi sudah bertahun-tahun melestariakan dan merawat aset Budaya. Untuk kategori Tokoh Penggiat Budaya Jamu Tradisional diberikan kepada Jamu Tradisional Indonesia Jamu "Ginggang" yang berada di jalan Masjid 32, Pakualaman, Yogyakarta yang pada saat ini keberadaannya sudah dikelola oleh generasi ke-5 yaitu P.Rudi sebagai penanggungjawabnya. Eksistensi jamu jawa Ginggang ini sampai sekarang dipercaya masih mempertahankan kwalitas profuknya. Selain itu pemberian penghargaan Kategori Tokoh Penggiat Budaya Radio Berbahasa Jawa yaitu Radio "Swara Kenanga Jogja", Siswanto.BE Direktur sekaligus Owner dan Marta Kisworo di Radio Swara Kenanga merupakan pelestarian nila-nilai Budaya Tradisi yang sampai saat ini meneguhkan tradisinya sebagai media penyiaran yang melestarikan nilai budaya tradisi, khususnya Jawa. Komitmen ini diwujudkan dalam program siaran yang diberikan berisi tentang produk-produk budaya tradisi Jawa. Untuk kategori Pengiat Seni diberikan kepada Pimpinan Komunitas "Gayam 16" Ishari Shida sebagai Komunitas Terminal Kreatif Gamelan Jawa. Komunitas Gayam 16 ini merupakan masyarakat lintas generasi dan etnik untuk mempertahankan gamelan jawa khususnya di Yogyakarta. Selain itu dalam Kategori Pengiat Seni (Seni Film) diberikan kepada Partogi Senoaji Julius Simongakir menjadi Sutradara terbaik dalam pengiat seni yaitu seni film. Dengan Gigihnya melewati lika-liku di dunia perfilman membuat Senoaji mampu melewatinya dan menjadi perhatian Pemerinah dalam memberikan penghargaan pada kategori Pengiat Seni (Seni Film). Wakil Walikota Heroe Poerwadi mengatakan Yogyakarta tidak mempunyai kekayaan kekayaan alam namun Yogyakarta mempunyai kekayaan Jiwa, Budaya dan Seni. "Saya berharap yang pd malam hari ini kita menemukan situs" jogja, yang memberikan kehidupan. Bagian dari bagamaana jogja yang tdk punya kekayaan jiwa budaya dan seni yang tidak pernah habis" ungkapnya. Hal ini yang membuat kecintaan dan rasa memiliki terhadap hasil karsa dan cinta masyarakat Yogyakarta yang pada gilirannya menumbuhkan dan mengembangkan patriotisme, nasionalisme, jati diri bangsa dan martabat manusia kiranya harus dipertahankan, dikembangkan, dan ditingkatkan(Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Wadahi Komunitas, Taman Pintar Gelar Obrolan Malam Sabtu
Taman Pintar Yogyakarta berupaya memfasilitasi berbagai komunitas yang ada di Yogyakarta melalui acara Obrolan Malam Sabtu. Kepala Bidang Taman Pintar, Afia Rosdiana berharap, acara yang diselenggarakan di hari sabtu minggu terakhir setiap bulannya ini dapat menjadi kegiatan rutin bagi komunitas-komunitas tersebut untuk menyampaikan berbagai macam tema yang ingin diangkat. "Monggo teman-teman komunitas kalau mau kopdar kalau ingin diskusi lebih dalam tentang apa yang diminati bisa main ke Taman Pintar", ujar Afia pada acara Obrolan Malam Sabtu di Taman Pintar, Jumat (28/9). Alfia menambahkan, saat ini Taman Pintar membuka layanan hingga malam dari selasa sampai dengan minggu. Harapannya Taman Pintar dapat dimanfaatkan sebagai co-working space bagi berbagai komunitas tersebut. "Layanan Taman Pintar buka hingga pukul 22.00 dan dilengkapi dengan fasilitas wi-fi. Ada tiga tempat yang dapat digunakan, yakni Kampung Kerajinan untuk rapat dan bincang-bincang dengan reservasi terlebhi dahulu serta di sisi tengah dan sisi timur untuk mengerjakan tugas" Imbuh Afia. Hal tersebut diapresiasi oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi. Heroe berharap Taman Pintar dapat menjadi tempat bagi anak muda untuk berkumpul, berkreasi, dan bertransaksi dengan gaya yang njogjani sehingga menghasilkan karya yang bernilai "Kita percaya dan kita sadar Jogja tidak bias hidup kalau SDM-nya terus bermimpi, maka SDM harus terus berpikir, terus kreatif. Kita tidak punya apa-apa, tidak punya minyak, tidak punya hutan, yang kita punya hanya otak dan hati kita. Minyak dieksploorasi makin habis, tapi jika otak dieksplorasi justru makin berkembang" Tutur Heroe. Pada penyelenggaraan Obrolan Malam Sabtu kali ini, tema yang diangkat adalah "Membangun Komunitas Tangguh untuk Jogja Istimewa". Peserta datang dari berbagai komunitas yang ada di Yogyakarat seperti Komunitas Pitnik yang merupakan komunitas sepeda dengan kegiatan rutin Gowes Bareng Minggu Wage, Komunitas Jogja Animation yang mewadahi para pelaku animasi yang masih pemula dan Komunitas Aero dari SMA Angkasa yang sudah memiliki berbagai prestasi di bidang aeromodelling Peserta berkesempatan untuk berbagi gagasan bersama Setiawan Tiada Tara, motivator humar dan Ajeng Respati, pendiri Komunitas Jogja Menyala yang merupakan komunitas di bidang sosial pendidikan untuk menyalakan budaya membaca anak-anak Indonesia. Mereka sharing tentang bagaimana membangun dan mengembangkan komunitas serta menumbuhkan motivasi dengan cara humor.
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Peserta Gowes Jelajah Kotagede Membdludak
Kegiatan Gowes Jelajah Kampung Wisata Jogja yang diadakan Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogya, Sabtu (29/9) dibanjiri peserta. Kegiatan yang diikuti setidaknya 160 peserta ini mengambil rute seputaran Kotagede. Dengan mengambil titik kumpul di Sekar Kedhaton, para peserta nampak semangat mengikuti seluruh rangkaian gowes tersebut. Dalam kegiatan gowes tersebut mengenalkan wisata heritage yang ada di Kotagede yang juga sebagai primadona dan unggulan pariwisata di Kota Yogya. Peserta diajak bersepeda melintasi beberapa situs peninggalan bersejarah di Kotagede seperti Makam Kotagede, rumah budaya Singosaren, sentra kerajinan perak, Watu Gatheng, dan berkahir di Ndalem Sopingen. Plt Kepala Dispar Kota Yogya, Yunianto Dwi Sutono mengatakan kekayaan heritage yang ada di Kota Yogya merupakan unggulan dan daya tarik tersendiri yang dimiliki Kota Yogya. Salah satu kawasan heritage yang kini dipromosikan yaitu Kawasan Kotagede. "Kami gencar mempromosikan wisata heritage di Kawasan Kotagede. Salah satunya melalui Gowes Jelajah Kampung Wisata Jogja" katanya di lokasi. Pada kesempatan tersebut, Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi juga ikut memeriahkan gowes tersebut. Ia berpesan agar para peserta tidak hanya bersepeda untuk momen tertentu saja, namun juga membiasakan bersepeda dalam kegiatan sehari-hari. "Bersepeda selain menyehatkan juga bisa menjadi ajang silaturahmi dengan teman-teman dan masyarakat. Dengan bersepeda kita juga bisa menikmati lingkungan sekitar" pesannya. (Han)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Wawali Hadiri Drama Sulap Komunitas Magig Yogyakarta di TBY
Pada pertunjukan sebelumnya Ngejowantan part 1 dengan tema "Ngawuri uri Kasulupan " digelar pada Tahun 2017. Drama ini bercerita tentang bagaimana melaksanakan titah Ngejowantan Ngawuri Uri Kasulupan untuk menjaga dan melestarikan keindahan serta ke agungan seni pertunjukan sulap. Antusias penonton di dalam drama sulap Ngejowantan 1 dengan tema "Ngawuri uri Kasulupan " yang digelar pada Tahun 2017 ini sangat banyak, oleh karena itu pihak panitia dari Komunitas Magig Jogja pun memberikan sebuah pertunjukan kembali pada drama sulap yang bertemakan Ngejowantan #2 "Babar Sejatining Sihir" yang bertempat di Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (29/9). Komunitas Magig Jogja yang di sutradarai oleh Haryono Sastro Redjo (Sastrodiningrat) dengan para Cast nya yaitu Danu Casero, Ogie, Linduaji Blackjay, Haru Alra, Adix Exquero, Pato Van Kahfi, Rayyan Almathor, Ribka Elizabeth memberikan suasana baru dalam pertunjukan yang di selenggarakan di TBY. Suasana ini dinikmati oleh para penonton yang hadir dalam acara ini. Dalam acara ini penonton di pungut biaya dengan kategori Presale 35.000 sedangkan OTS 50.000. Namun pertunjukan yang di suguhkan tidak membuat penonton kecewa. Penonton sangat menikmati drama sulap dari Komunitas Magig Jogja sampai akhir. Dalam pementasan kedua kali ini dihadiri oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi yang juga sangat menikmati drama sulap ini. Dalam acara ini Heroe Poerwadi sangat bergembira menyambut drama sulap yang disuguhkan Komunitas Magig Jogjakarta. "selamat yang telah berjuang sampai disini untuk Komunitas Magig Jogjakarta, saya sangat bergembira menyambut pertunjukan yang ada dan di suguhkan pada malam hari ini"ujarnya. Heroe Poerwadi berharap acara ini menjadi pendorong kreatifitas anak muda untuk terus mengasah kemampuan kreatifitasnya di dalam seni pertunjukan. "saya berharap acara ini menjadi pendorong kreatifitas, mimpinya yang senantiasa untuk membangun mimpi itu yang tidak ada batasnya, dan kreasi itu tidak ada akhirnya, berfikir itu tidak ada habisnya selamat untuk Komunitas Magig Jogjakarta" ujarnya. Drama sulap ini melibatkan kurang lebih 80 orang dari Komunitas Magig Jogja. Pementasan tersebut juga diisi dengan penampilan tarian tradisional dan kontemporer dari daerah Yogyakarta. (Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Warga Diminta Siap Mengantisipasi Bencana
Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus melakukan upaya untuk mempersiapkan wargannya dalam mengantisipasi terjadinya bencana. Salah satunya adalah dengan membentuk Kampung Tangguh Bencana (KTB). "Hidup bersama dengan bencana membuat kita semua perlu meningkatkan ketrampilan dan kemampuan agar terhindar dari resiko bencana," ucap Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat melaunching KTB Mangkukusuman, Ahad (30/9/2018). Menurut Haryadi, kerentanan warga terhadap bencana terutama faktor keterbatasan pemahaman tentang resiko-resiko di sekeliling yang berakibat tidak adanya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Terkait Launching Kampung Tanggap Bencana, Ia mengatakan, bahwa KTB dimaksudkan untuk menyiapkan warga menghadapi bencana secara cepat dan tepat. "Melalui pemberian pengalaman langsung dalam penanganan bencana diharapkan juga akan ditemukan metode dan indikator penanganan bencana yang paling efektif dan efisien," kata Haryadi. Sehingga, sambungnya, warga benar-benar mampu, paham dan siap menghadapi bencana sesuai dengan standar keselamatan yang tinggi. Pihaknya mengingatkan, wilayah Kota Yogyakarta termasuk area dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan berada di bantaran sungai sehingga dapat menjadi salah satu faktor sulitnya evakuasi saat terjadi bencana. "Oleh karena itu, kami berharap, semoga melalui upaya ini dapat mengurangi resiko yang mungkin terjadi dan yang diakibatkan oleh bencana dan dapat menjadi contoh bagi kelurahan-kelurahan lain," tandasnya. Haryadi pun mengapresiasi warga Kelurahan Baciro, serta Kecamatan Gondokusuman dan berbagai pihak terkait atas partisipasinya dalam penanggulangan bencana alam. "Mengingat saat ini potensi bencana baik banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran serta puting beliung sewaktu-waktu dapat terjadi," tegad Haryadi. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Hari Wahyudi mengungkapkan tujuan diadakannya simulasi ini untuk melatih kepekaan masyarakat ketika menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa mengancam. "Inti dari simulasi bencana untuk membiasakan warga bagaimana yang dilakukan ketika terjadi bencana. Untuk membiasakannya perlu diadakan rutin, skala kecil-kecil saja," ujarnya. Ia menegaskan bahwa Fungsi KTB cukup penting untuk mempersiapkan masyarakat di wilayah. Mengingat mereka yang tahu dan dekat dalam menangani awal jiak terjadi bencana sehingga lebih cepat. "Jika tidak bisa ditangani KTB, maka akan dikoordinasikan dengan Pusdalop BPBD Kota Yogyakarta untuk penanganan lebih lanjut," imbuhnya. (Tam)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Wawali Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila
Pelaksanaan upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila berlangsung di Halaman Balaikota Yogyakarta, Senin (1/18). Acara tersebut diikuti seluruh OPD Pemerintah Kota Yogyakarta. Hari lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 2018 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Untuk memperingati itu, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar upacara peringatan dengan melibatkan seluruh pegawai di lingkungan Pemkot Yogyakarta, Upacara yang berlangsung khidmat ini di gelar di halaman Balaikota Yogyakarta. Dalam pelaksanaan Upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menjadi inspektur upacara. Upacara berlangsung tepat pukul 08.00 WIB. Heroe Poerwadi yang saat itu menjadi inspektur upacara mengenakan seragam Korpri berjalan memasuki panggung upacara didampingi Sekertaris Pribadinya. Sementara jajaran PNS lainnya juga mengenakan seragam Korpri. Adapun, para pimpinan lembaga lainnya, seperti jajaran menteri Kabinet Kerja Kota Yogyakarta. Dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila ke depan rasa cinta kepada bangsa, Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-undang Dasar 1945,semakin kuat. (Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Tradisi Wiwitan Awali Rangkain Festival Jogja Kota
Dibuka secara sederhana di bantaran sungai code kawasan jembatan Amarta, Festival Jogja Kota secara resmi di buka dengan tradisi wiwitan, Senin (1/10/2018). Dibuka langsung Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti dan Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi. Festival Jogja Kota akan digelar selama bulan oktober penuh untuk memperingati hari jadi Kota Yogyakarta ke 262 tahun. Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti menegaskan bahwa Festival Jogja Kota merupakan persembahan dari Pemerintah Kota (Pemkot) untuk warga Yogyakarta. "Selama Oktober akan dipenuhi acara yang tentu penuh kegembiraan. Harapan kami kegembiraan HUT Kota Yogya ini menjadi ulang tahunnya masyarakat Yogyakarta," ucap Haryadi. Haryadi menyebut, diusianya ke 262 tahun Kota Yogyakarta telah mengalami banyak sekali perjalanan naik turun, positif dan negatif. "Angka 262 maknanya itu berarti sudah 2,5 abad lebih dan harapan selalu mengarah ke yang positif," imbuhnya. Pihaknya berharap melalui rangkaian HUT Kota Yogyakarta itu dapat meningkatkan peran masyarakat untuk membangun Kota Yogyakarta. "Melalui wiwitan ini harapnny bisa memperbesar partisipasi masyarakat. Ulang tahun ini persembahan dari pemkot untuk masyarakat," tandasnya. Pada kesempatan tersebut Haryadi Suyuti tidak lupa mengajak warga Yogyakarya untuk mendoakan warga Palu, Donggala dan NTB yang sedang terkena bencana gempa bumi dan tsunami. Dalam kesempatan yang sama Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menambahkan, Festival Jogja Kota sebagai media promosi wisata Kota Yogyakarta. "Akan banyak sekali kegatan menarik seperti Malioboro Coffee Night, seni budaya di 14 kecamatan dan puncaknya pada 7 Oktober 2018 berupa Wayang Jogja Night Carnival," jelasnya. (Annisa/Tam)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
26.262 Gelas Kopi Dibagikan Di Sepanjang Jalan Malioboro
Pemerintah Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Komunitas Pencinta Kopi Nusantara Yogyakarta menggelar Malioboro Night Coffee 2018. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian acara peringatan HUT 262 Kota Yogyakarta yang dikemas dalam event Festival Jogja Kota. Mengusung tema Merajut Kopi Nusantara, aneka jenis dan varian kopi yang disuguhkan pada pengunjung berasal kopi khas Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera sampai Papua. Ketua Panitia Malioboro Night Coffee Festival, Anggi Dita, menjelaskan untuk memeriahkan acara tersebut telah disiapkan sebanyak 1,5 ton kopi. "Jumlah kopi yang kami siapkan tahun ini jauh lebih banyak dibanding kegiatan yang sama tahun lalu, dengan 900 kilogram kopi," katanya dilokasi, Selasa malam (2/10). Dengan begitu, lanjutnya jumlah gelas kopi yang akan dibagikan secara gratis ke masyarakat akan lebih banyak lagi. Pada tahun lalu, ada 10.000 gelas kopi yang dibagikan sedangkan pada tahun ini akan ditambah menjadi 26.262 gelas kopi. Warga bisa mendapatkan kopi gratis di depan Malioboro Mall, di depan Hotel Mutiara 1, dan di depan Hotel Mutiara 2. Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, berharap Malioboro Coffee Night dapat dikemas seperti event Prawiro Coffee Festival, dimana di dalamnya panitia juga melibatkan para seniman Yogyakarta sebagai pengisi acara. "Jadi, nantinya ada pentas musik jalanan, cartoon art, dan seni patung mewarnai event sepanjang malam sambil ngopi bersama itu" harapnya. Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengaku senang dengan adanya gelaran festival kopi ini. Menurutnya kebersamaan warga menikmati kopi bareng ini sangat unik. "Ini menjadi pemandangan yang baru bagi warga Kota Yogya" ujarnya Ia menambahkan bahwa Kota Yogyakarta memiliki potensi kopi yang luar biasa. Ini dibuktikan dengan jumlah toko kopi maupun penikmat kopi di Yogyakarta terus bertambah jumlahnya. Ini, lanjutnya, membuktikan bahwa kopi mulai diterima dan menjadi budaya bagi warga di Yogyakarta. "Potensi ekonomi kopi di Kota Yogyakarta sangat luar biasa. Potensi ini harus bisa ditangkap peluangnya sehingga bisa menggerakkan perekonomian di Kota Yogyakarta,"katanya. Tak mau kalah dengan aksi para barista, Walikota dan dan Wakil Walikota pun berunjuk gigi menunjukkan ketrampilannya meracik kopi ala barista profesional. Hasilnyanya pun tidak mengecewakan, kopi racikannya berhasil menuai pujian dari para pengunjung yang menjajal kopi racikannya. (Han)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Delegasi Friendship Force International Terkesan Dengan Kota Yogya
Delegasi Friendship Force United Kingdom atau Organisasi persahabatan antar negara mengaku senang dan terkesan selama berada dan tinggal di Kota Yogyakarta. Menurut mereka Kota Yogya adalah kota yang memiliki nilai toleransi yang tinggi. President Club Frienship Force Indonesia, dr Vivi Arliani mengatakan organisasi tersebut sudah ada sejak tahun 80-an, dimana pesertanya atau anggotanya kebanyakan orang-orang pensiunan. Untuk lebih mengetahui budaya yang ada dalam masyarakat, maka mereka sengaja tidak tinggal di hotel. "Sebaliknya mereka tinggal di kampung-kampung dan berbaur dengan masyarakat setempat. Dengan demikian, mereka tahu persis mengenai kegiatan maupun budaya masyarakat setempat secara langsung." ungkapnya usai acara Farewell party Friendship Force International di Rumah Dinas Wakil Walikotya Yogyakarta, Rabu malam (4/10) Selama di Kota Yogya, mereka diajak mengunjungi berbagai obyek wisata yang ada. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan bisa memberi pengalaman bagi mereka selama berada di Yogyakarta. "Selama tinggal di Kota Yogya, mereka diberi kesempatan untuk belajar kesenian, salah satunya adalah belajar gamelan" katanya Sementara itu Walikota Yogakarta, Haryadi Suyuti mengatakan kegiatan pertukaran antar budaya ini diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berkesan untuk para anggota delegasi tersebut. Dalam kesempatan tersebut mereka juga menggalang dana untuk membantu korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala yang diserahkan langsung kepada Walikota Yogyakarta. (Han)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Wakil Walikota Pimpin Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti
Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali menggelar prosesi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti, Kamis (4/10/2018). Momentum tersebut untuk mengingatkan kembali amanah Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada Pemkot untuk mensejahterakan masyarakat Yogyakarta. Pada 7 Juni 2000 silam Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti diserahkan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada Pemkot, bertepatan dengan hari jadi Pemkot ke-53. Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi selaku pimpinan jamasan mengungkapkan, Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti sejatinya adalah lambang sekaligus harapan Gubernur DIY kepada Pemkot agar bisa membawa masyarakat lebih sejahtera. "Jamasan ini digelar setiap tahun tujuannya untuk menyegarkan kembali ingatan kita akan pesan yang diberikan oleh Gubernur kepada Pemkot," tuturnya. Heroe pun berharap Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti bisa menggugah semangat aparatur Pemkot Yogyakarta untuk bekerja lebih baik lagi untuk kesejahteraan masyarakat. "Banyak pekerjaan rumah yang harus kami tuntaskan, seperti masalah kesenjangan sosial, infrastruktur hingga menata view Yogyakarta," tandasnya. Heroe pun mengaku baru kali pertama ini melakukan prosesi jamasan pusaka. Pihkanya pun menyebut prosesi jamasan sebagai kegiatan yang biasa dilakukan. "Prosesi budaya ini sama dengan umumnya. Setelah dipakai, dicuci, agar bisa dipakai lagi. Sama dengan pusaka, dijamas supaya terjaga, bagus, dan tahan lama," jelasnya/ Berbeda dengan tahun sebelumnya, jamasan yang biasanya di lakukan di halaman air mancur, tahun ini jamasan di langsungkan di lapangan Balaikota. Namun sebelum itu, Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti yang disemayamkan di ruang kerja Walikota Yogyakarta dikeluarkan dan dikirab ke arah timur melalui pintu keluar Balaikota, melewati rumah dinas Walikota dan kembali masuk dari sisi timur menuju lapangan Balaikota. Kirab budaya tersebut diikuti sejumlah abdi dalem dan 18 kelurahan budaya serta dua rintisan kelurahan budaya. Setiba di lapangan, Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti diserahkan kepada Heroe Poerwadi untuk dilakukan jamasan. Heroe pun melakukanya dengan penuh penghayatan. Setelah itu, Heroe pun menyerahkan kembali Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti kepada para abdi dalem, untuk selanjutnya dikembalikan ke tempatnya semula di ruang kerja Walikota Yogyakarta. "Jamasan ini dilakukan rutin setiap tahun bertepatan dengan hari jadi Kota Yogyakarta," ucap Heroe. (Tam)